Konjungtur Perekonomian dan Manajemen Risiko

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Konjungktur perekonomian secara hakekat memberikan kepastian bahwa risiko itu melekat pada setiap dimensi waktu perekonomian. Perekonomian selalu memiliki peluang untuk terjadinya resesi dan depresi. Dengan demikian permintaan akan pembacaan risiko dari kejadian resesi dan depresi sangatlah tinggi secara logikanya. Sebuah teknik untuk menemukan kondisi resesi dan depresi dalam sebuah siklus bisnis linear, dengan menghilangkan setengah data pada setiap forecasting, dipakai secara luas tetapi tidak secara ekslusif dalam ilmu memprediksi probabilitas resesi dan depresi.

Sebuah pencarian biner mencari depresi dan/atau resesi, melakukan sebuah pembandingan untuk menentukan apakah depresi dan/atau resesi yang dicari ada sebelum atau sesudahnya, kemudian mencari setengah sisanya dengan cara yang sama. Sebuah pencarian biner adalah salah satu contoh dari algoritme divide and conquer (atau lebih khusus algoritme decrease and conquer) dan sebuah pencarian dikotomi (lebih rinci di Algoritme pencarian). Teknik ini tampaknya masih belum banyak dikembangkan dalam model-model manajemen risiko yang ada pada saat ini. Tidak mengherankan resesi dan depresi dalam sebuah perekonomian selalu luput dalam pengambilan keputusan para manajemen top.

Menurut Moore and Chang, sistem penopang keputusan dapat digambarkan sebagai sistem yang berkemampuan mendukung analisis ad hoc data, dan pemodelan keputusan, berorientasi keputusan, orientasi perencanaan masa depan, dan digunakan pada saat-saat tidak biasa. Inilah yang luput dari manajemen risiko saat ini sebuah kombinasi dari forecasting probabilitas resesi dan sistem penopang keputusan. Sistem kerja adalah suatu sistem di mana manusia dan/atau mesin melakukan pekerjaan dengan menggunakan sumber daya untuk memproduksi produk tertentu dan/atau jasa bagi pelanggan.

Kombinasi sistem ini adalah suatu sistem kerja yang kegiatannya ditujukan untuk pengolahan (menangkap, transmisi, menyimpan, mengambil, memanipulasi dan menampilkan) informasi. Dengan demikian, sistem ini berhubungan dengan sistem data di satu sisi dan sistem aktivitas di sisi lain. Sistem yang sangat dibutuhkan adalah suatu bentuk komunikasi sistem di mana data yang mewakili dan diproses sebagai bentuk dari memori sosial. Sistem informasi juga dapat dianggap sebagai bahasa semi formal yang mendukung manusia dalam pengambilan keputusan dan tindakan.

Data yang diolah saja tidak cukup dapat dikatakan sebagai suatu informasi. Untuk dapat berguna, maka informasi harus didukung oleh tiga pilar sebagai berikut yaitu tepat kepada orangnya atau relevan (relevance), tepat waktu (timeliness), dan tepat nilainya atau akurat (accurate). Keluaran yang tidak didukung oleh tiga pilar ini tidak dapat dikatakan sebagai informasi yang berguna, tetapi merupakan sampah (garbage). Sistem ini harus efisien untuk mengambil data yang relevan bagi para pengambil keputusan, sehingga user interface sangat penting.

Beberapa jenis interface dapat tersedia untuk struktur ini, laporan terjadwal pertanyaan/jawaban, menu didorong, perintah bahasa, bahasa alam, dan input/output. Jika sudah ada system yang canggih seperti itu, lantas pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana penjelasan dari rontoknya Lehman Brother? Bukankah perusahaan itu juga sudah memiliki semua sistem manajemen risiko ini? Analisis keuangan adalah salah satu langkah yang paling penting untuk perusahaan sekelas Lehman Brothers. Eksekutif perlu menggunakan rasio keuangan dan analisis arus kas untuk memperkirakan tren dan membuat keputusan investasi modal. Mereka juga memiliki mengintegrasikan perencanaan atau anggaran dengan kontrol pelaporan kinerja, dan hal ini dapat sangat membantu untuk membiayai eksekutif. Sistem mereka juga fokus pada kinerja akuntabilitas keuangan, dan mengakui pentingnya biaya standar dan penganggaran fleksibel dalam mengembangkan kualitas informasi disediakan untuk semua tingkat eksekutif.

Secara aplikasi terlihat Lehman Brother sangat mumpuni. Sebelum mengumumkan kepailitan pada 2008, Lehman adalah bank investasi terbesar keempat di Amerika Serikat (setelah Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Merrill Lynch) yang bergerak di bidang bank investasi, penjualan dan perdagangan saham dan obligasi (khususnya sekuritas keuangan AS), penelitian pasar, manajemen investasi, saham swasta, dan perbankan swasta. Tanggal 15 September 2008, firma ini mengajukan perlindungan kepailitan Bab 11 setelah eksodus massal sebagian besar kliennya, kerugian saham drastis, dan devaluasi asetnya oleh lembaga penilaian kredit. Pengajuan ini menandakan terjadinya kebangkrutan terbesar dalam sejarah Amerika Serikat, dan dianggap memainkan peran utama dalam mengakibatkan krisis keuangan global akhir 2000-an.

Keesokan harinya, Barclays mengumumkan perjanjian untuk membeli divisi perbankan investasi dan perdagangan Lehman di Amerika Utara bersama gedung kantor pusatnya di New York tergantung persetujuan regulasi. Tanggal 20 September 2008, versi revisi perjanjian yang disetujui oleh Hakim James M. Peck dari Pengadilan Kepailitan AS. Minggu selanjutnya, Nomura Holdings mengumumkan bahwa mereka akan membeli cabang Lehman Brothers di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Jepang, Hong Kong dan Australia, termasuk operasi perbankan investasi dan saham Lehman Brothers di Eropa dan Timur Tengah. Persetujuan ini diberlakukan pada 13 Oktober 2008.

Ini dapat terjadi karena algoritma yang digunakan oleh Lehman Brother untuk mendeteksi depresi tidak menggunakan perhitungan cepat untuk menemukan rute terpendek dalam jaringan. Kesalahan dalam menentukan algoritma telah menghancurlkan Lehman Brother. Kalau bicara ketamakan maka semua perusahaan investmen bank adalah perusahaan yang tamak karena memang motifnya mencari keuntungan, namun ada perusahaan yang menerapkan algoritma yang tepat dan disiplin dalam pemakaiannya sehingga ketamakannya dapat terselamatkan. Lehman Brother telah keliru dalam memprediksi terjadinya depresi dan kalua mau jujur hampir semua bank besar di dunia juga gagal mendeteksi datangnya depresi. Namun tentunya ada bank besar yang juga mampu mendekteksi depresi namun mereka tidak pernah sesumbar, karena yang penting bagi mereka adalah mereka memiliki manajemen risiko yang mampu membaca konjungtur perekonomian!

BERITA TERKAIT

Hoax Ancam Keutuhan Indonesia dan Keberlanjutan Pembangunan

   Oleh: Muhammad Satyan Azikar dan Erwin Sikumbang, Mahasiswa PTN Hoax merupakan komponen perusak demokrasi yang nyata dalam momentum  pesta…

Ekspor Rokok dan Cerutu Naik Hingga US$931,6 Juta

NERACA Jakarta – Industri Hasil Tembakau (IHT) merupakan salah satu sektor manufaktur yang mampu memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan devisa,…

Rekrutmen Prajurit TNI AD dari Wilayah Perbatasan - Terluar dan Pedalaman Miliki Nilai Strategis

Rekrutmen Prajurit TNI AD dari Wilayah Perbatasan Terluar dan Pedalaman Miliki Nilai Strategis NERACA Jakarta – Rekrutmen atau penerimaan calon…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Quo Vadis Indonesia?

  Oleh: William Fortunatus DA, Mahasiswa di STFT Widya Sasana Malang   Politik adalah sarana dan bagian dari ruang publik…

Jumlah TKA di Indonesia Masih Terkendali

Oleh : Adi Ginanjar, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) Dalam debat cawapres yang telah terselenggara, Cawapres Ma’ruf…

Hati-Hati, Jangan Pernah Terjerat Rentenir Online

Oleh: Djony Edward Kehadiran perusahaan pembiayaan berbasis teknologi (financial technology–fintech) di Indonesia berkembang pesat dan sulit dicegah. Baik dari sisi…