Mewujudkan Genarasi Sehat Juga Tanggung Jawab Swasta - Tempo Scan Ikut Perangi Gizi Buruk

Permasalahan gizi buruk atau stunting sebagai hambatan pembangunan manusia, menjadi persoalan yang belum tertangani secara optimal. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada 2018 sebanyak 7,8 juta atau 30% dari 23 juta balita di Indonesia adalah penderita stunting. Meskipun proporsinya turun dari 37% pada periode sebelumnya, namun angka itu terbilang masih tinggi.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani menekankan bahwa pemerintah melakukan intervensi program perbaikan gizi untuk menangani masalah malnutrisi di Indonesia. “Hari gizi nasional menjadi agenda penting bagi pemerintah dalam rangka sosialisasi program perbaikan gizi nasional,”ujarnya.

Tujuan program ini, lanjut Puan, adalah peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat akan pentingnya gizi. Sasaran pertama pemerintah dalam perbaikan gizi secara berkesinambungan adalah 1000 hari pertama kehidupan. Dirinya menjelaskan, 1000 hari pertama kehidupan merupakan periode sensitif yang menentukan kualitas hidup di masa yang akan datang. Akibat kegagalan asupan gizi yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak bisa dikoreksi, seperti stunting, kecerdasan tidak optimal, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, melalui berbagai program intervensi, pemerintah memastikan agar pada periode tersebut, calon ibu, ibu hamil, dan bayi mendapatkan seluruh kebutuhan gizi untuk bertumbuh secara sempurna. Menurut Puan, masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat dan penyebabnya juga multifaktor, sehingga pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor terkait termasuk pihak swasta.”Kami menyambut baik upaya yang dilakukan PT Tempo Scan Pacific Tbk dengan program corporate social responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan bertemakan wujudkan generasi Indonesia bergizi dan sehat sebagai wujud peran serta swasta dalam upaya peningkatan gizi masyarakat,”ungkapnya.

Kata Puan, namun yang paling penting adalah memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai makanan bergizi dan pentingnya makanan gizi. Masyarakat harus tahu bahwa makanan bergizi tidak harus mahal. Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ini menjadi momentum untuk membangun keluarga dan masyarakat sadar gizi yang sehat, cerdas dan produktif. “Gizi yang baik menjadi landasan bagi setiap individu untuk mencapai potensi maksimal yang dimilikinya, sehingga hidup sejahtera dan maju,”ujar Puan.

Program Berkesinambungan

Sementara President Director Tempo Scan Group, Handojo S. Muljadi mengatakan, program ini hadir sebagai wujud nyata tanggung jawab sosial perusahaan untuk ikut serta dalam mewujudkan generasi Indonesia yang bergizi dan sehat, demi masa depan bangsa yang sejahtera. Program “Wujudkan Generasi Indonesia Bergizi dan Sehat” ditujukan bagi anak-anak usia 2 tahun ke atas dengan kondisi gizi kurang dan masuk dalam golongan keluarga ekonomi lemah atau miskin. “Bantuan kesehatan akan diberikan secara berkesinambungan dalam kurun waktu selama 3 bulan. Selain itu, orang tua dari anak-anak tersebut juga akan diberi edukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat sekaligus pencegahan penyakit termasuk antara lain demam berdarah,” jelas Handojo.

Pelaksanaan program “Wujudkan Generasi Indonesia Bergizi dan Sehat” di 2019 secara keseluruhan akan menjangkau beberapa wilayah di kabupaten Klaten, Jawa Tengah dengan total estimasi penerima bantuan diperkirakan berjumlah 5.000 anak-anak di atas usia 2 tahun. Sampai tahun lalu, program “Wujudkan Generasi Indonesia Bergizi dan Sehat” telah menjangkau 5 Kabupaten di provinsi Jawa Barat dan Banten, serta meliputi sejumlah 172 Posyandu di 8 Kecamatan dan berhasil membantu 8.781 anak-anak dengan usia di atas 2 tahun.

Handojo menambahkan, partisipasi aktif dan berkelanjutan dari semua pihak sangat penting untuk memastikan terealisasinya generasi Indonesia yang bergizi dan sehat. “Karena itu program CSR ini dalam pelaksanaannya akan melibatkan instansi terkait antara lain seperti Posyandu yang merupakan pusat pelayanan kesehatan dasar terdekat dengan masyarakat,” katanya.

Dirinya mengatakan bahwa provinsi Jawa Tengah memiliki beragam potensi yang tentunya sangat berpengaruh pada tingkat pertumbuhan perekonomian nasional, mulai dari sektor pertanian, perdagangan, hingga industri. Terlebih provinsi ini juga memiliki lokasi yang strategis dan berlokasi cukup dekat dengan pemerintah pusat. “Kami berharap program CSR Tempo Scan Group dapat menjadi sinergi yang baik dengan upaya pemerintah memperbaiki status gizi anak,”tuturnya.

Seperti diketahui, laju pertumbuhan penduduk di Indonesia meningkat dengan sangat cepat. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 yang disusun Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 238,5 juta pada tahun 2010 menjadi 305,6 juta pada tahun 2035. Jumlah ini tentunya akan menjadi aset yang luar biasa bagi Indonesia apabila menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga menjadi peluang positif bagi kemajuan perekonomian Indonesia dan membuat Indonesia selangkah lebih dekat untuk menjadi negara maju.

Menurut Riskesdas 2018, terdapat perbaikan status gizi pada balita di Indonesia dimana proporsi status gizi buruk dan gizi kurang turun dari 19,6% (Riskesdas 2013) menjadi 17,7%. Hal ini didukung Data BPS 2018 yang menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan baik dari sisi jumlah maupun prosentase dan berhasil mencapai titik terendah di 2018. Dalam hal ini Tempo Scan Group melalui program tanggung jawab sosial perusahaan mewujudkan generasi Indonesia bergizi dan sehat ingin membantu percepatan perbaikan status gizi anak Indonesia.

Data BPS 2018 menyebutkan bahwa provinsi Jawa Tengah turut memberikan sumbangsih atas penurunan angka kekurangan gizi dan tingkat kemiskinan di Indonesia, dimana angka tingkat kemiskinan di Jawa Tengah berhasil turun hingga 11,32% dibandingkan dengan tahun sebelumnya di angka 12,23%. Hal tersebut membuktikan bahwa program yang dihadirkan oleh pemerintah setempat telah mampu berjalan efektif untuk terus menekan angka kekurangan gizi dan tingkat kemiskinan masyarakat.

BERITA TERKAIT

Kapan Anak Perlu Ikut Bimbel?

  Menghadapi anak dengan banyak tugas sekolah, tak jarang membuat orangtua menjadi bingung. Bingung bagaimana menjelaskan pelajaran anak yang berbeda…

Bank Daerah dan Swasta Didorong Ikut Danai Proyek Infrastruktur

      NERACA   Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), melalui Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT)…

KTP Belum Bisa Jawab Semua Masalah Publik

  Oleh : Sugeng Hermansyah, Pemerhati Masalah Sosial Politik Dalam debat putaran ketiga yang mempertemukan kedua cawapres, KH Ma’ruf Amin…

BERITA LAINNYA DI CSR

Tingkatkan Kualitas Budidaya Ikan Lele - Indah Kiat Berikan Bantuan 24 Ribu Bibit Lele Sangkuriang

Ciptakan produktivitas budidaya ikan lele yang berkualitas guna menunjang peningkatan kesejahteraan warga, unit industri Asia Pulp & Paper (APP) Sinar…

Sumbangkan Dana US$ 1 Juta - Google.org Bantu Persiapan Bencana di Indonesia

Menyadari Indonesia menjadi negara rawan bencana dan bencana sendiri tidak bisa diprediksi kapan datangnya, maka kesadaran masyarakat akan potensi bencana…

Peduli Sentani Jayapura - Gandeng PMI, Indosat Terjunkan Mobil Klinik

Musibah banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura Papua menjadi duka bagi bangsa ini. Berdasarkan data, Rabu (20/3), korban meningal dunia…