OJK: Lampu Kuning Bank-bank Kecil - BERMODAL INTI KURANG DARI RP 5 TRILIUN DIMINTA MERGER

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan sinyal lampu kuning kepada bank-bank kecil yang bermodal inti kurang dari Rp 5 triliun di tengah maraknya persaingan antarbank belakangan ini di dalam negeri. Apalagi perolehanlaba bersih kecil tersebut sepanjang tahun lalu turun dibandingkan perolehan 2017. Sementara laba bank-bank besar yang bermodal inti lebih dari Rp5 triliun pada periode yang sama mengalami peningkatan. Untuk itu, OJK meminta bank kecil segera melakukan penggabungan usaha (merger) atau solusi lain untuk jalan keluarnya.

NERACA

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, bank-bank bermodal kecil berpotensi mengalami kesulitan dalam menghadapi tantangan-tantangan di industri perbankan saat ini. Tantangan yang dihadapi, menurut dia, mencakup digitalisasi produk, suku bunga, hingga penghimpunan dana. "Bank-bank kecil harus mencari jalan keluar, dengan menambah modal untuk bisa bersaing atau cari 'partner' (mitra)," ujarnya seperti dikutip Antara, belum lama ini.

Menurut dia, ada beberapa cara yang dapat dilakukan bank kecil untuk meningkatkan modal. Salah satunya, melalui pertumbuhan anorganik, seperti merger atau diakuisisi oleh bank besar.

"Misalnya bank besar ambil mereka (bank kecil) sebagai digital banking-nya atau sebagai bank yang khusus mengurus wealth management-nya. Caranya banyak, tidak harus merger," ujar Heru.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) OJK, laba bank umum pada kelompok BUKU (Bank Umum Kegiatan Usaha) 1 atau bermodal inti Rp1 triliun ke bawah pada tahun lalu turun dari Rp716 miliar (2017) menjadi Rp700 miliar. Posisi laba itu kian tergerus jika dibandingkan 2016 yang masih mencapai Rp861 miliar dan Rp1,5 triliun (2015). Laba bank umum syariah pada kelompok yang sama malah mencatatkan rugi sebesar Rp19 miliar.

Kemudian laba bank kelompok BUKU 2 atau bermodal inti Rp1 triliun hingga di bawah Rp5 triliun dalam periode yang sama turun dari Rp10,28 triliun menjadi Rp9,18 triliun. Namun, bank syariah pada kelompok yang sama justru tercatat meningkat dua kali lipat dari Rp1 triliun menjadi Rp2,22 triliun.

Saat ini, menurut Heru, sudah ada beberapa bank kecil yang sedang dalam proses konsolidasi. Namun, dia enggan menyebut nama bank-bank tersebut. Karena baru akan mengumumkan rencana konsolidasi tersebut bila proses legal penggabungan bank sudah selesai. "Kalau bersaing terbuka nantikan berpengaruh juga. Ada dalam proses, kalau legal merger-nya sudah selesai nanti diberi tahu," ujarnya.

Konsolidasi serupa diharapkan juga dilakukan oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Berdasarkan peraturan OJK No. 5/POJK.03/2015 tentang kewajiban modal minimum BPR disebutkan bahwa pada 2019, bank harus memenuhi ketentuan modal minimal Rp3 miliar. Sedangkan pada 2024, modal minimal BPR sebesar Rp 6 miliar.

Heru menuturkan, bila BPR merasa berat dengan peraturan tersebut, lebih baik BPR mencari mitra strategis. Hingga saat ini ada sebanyak 1.700 BPR dan BPR Syariah (BPRS) di Indonesia.Bagaimanapun, jika harus bertahan dengan modal di bawah Rp3 miliar atau Rp6 miliar, menurut Heru, maka lebih baik bersinergi dengan mitra BPR lainnya.

Sementara itu, bank kelompok BUKU 3 atau bermodal inti Rp5 triliun hingga di bawah Rp30 triliun pada tahun lalu mencatatkan kenaikan laba sebesar 17,65 persen dibanding 2017 menjadi Rp38,33 triliun. Bank syariah pada kelompok yang sama juga mencatatkan kenaikan laba dari Rp365 miliar menjadi Rp604 miliar.

Kelompok Bank Besar

Sementara itu di kelompok bank BUKU 4 atau bermodal inti Rp30 triliun ke atas mencatatkan kenaikan laba sebesar 14,33% menjadi Rp99 triliun. Secara keseluruhan, laba bersih yang dibukukan perbankan pada sepanjang tahun lalu mencapai Rp150 triliun. Laba tersebut naik 14,4% dibanding 2017 tercatat Rp131,16 triliun.

Kenaikan laba terutama didorong pendapatan nonbunga yang tumbuh mencapai 12,82% dari Rp231,5 triliun menjadi Rp261,2 triliun. Sementara pendapatan bunga bersih perbankan yang selama ini menjadi tumpuan perbankan pada tahun lalu hanya naik 5,3% menjadi Rp377,25 triliun.

Tahun lalu, penyaluran kredit perbankan mencapai Rp5.294,88 triliun, naik 11,75% dibanding periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) hanya tumbuh 6,44% menjadi Rp5.630 triliun. Sementara pendapatan nonbunga tumbuh lebih kencang mencapai 12,82% dari Rp231,5 triliun menjadi Rp261,2 triliun. Di sisi lain, beban nonbunga atau operasional perbankan pada tahun lalu tercatat hanya naik 6,78% menjadi Rp453,02 triliun.

OJK juga mencatat margin bunga bersih (net interst margin/NIM) perbankan tahun lalu turun dari 5,32% (2017) menjadi 5,14%. Sementara efisiensi perbankan membaik yang diitunjukkan oleh penurunan rasio BOPO (beban operasional dibanding pendapatan operasional) dari 78,64% menjadi 77,86%.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso sebelumnya menilai pertumbuhan kredit cukup memuaskan karena berhasil mencapai target sebesar 10-12%. Kredit perbankan juga dinilai mampu tumbuh di tengah banjir tekanan dari ekonomi global, khususnya akibat kebijakan normalisasi moneter dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Di sisi lain, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan-NPL) perbankan tampaknya juga mampu dijaga lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Tercatat, NPL gross 2,37% dan NPL net 1,14%. NPL 2018 terlihat lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 2,59%.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) akan mengakuisisi bank kecil dan prosesnya ditargetkan selesai tahun ini. Menurut Presdir BCA Jahja Setiaatmadja, proses akuisisi tersebut berjalan baik dan dipastikan tidak akan molor lagi.

Hanya, Jahja masih enggan menyebut nama bank tersebut. Pengumuman bank akuisisi akan dilakukan setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). "Nama banknya kita enggak mau sebut dulu. Iya RUPS selesai, disetujui kita umumkan," ujarnya di BSD, Tangerang, Sabtu (23/2).

Dia mengatakan, aksi korporasi tersebut diprediksi bisa berpengaruh pada pergerakan saham, oleh sebab itu emiten dengan kode BBCA ini hati-hati mengumumkan proses akuisisi ke publik.

"Relatif material. Material itu bukan dari segi value ya. Material itu kalau sampai mempengaruhi saham. Nah kita kan enggak tahu, waktu kita announce, BCA terpengaruh apa enggak. Jadi kita enggak berani ambil risiko. Sebab itu kita harus persetujuan RUPS dulu, baru sesudah itu kita announce ke market," ujarnya.

Rencana akuisisi ini sudah dibicarakan rutin oleh pihak OJK. Saat ini perseroan sedang menunggu hasil due diligence dan harga jual bank incaran. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

Bank Bukopin Siapkan Rp1 Triliun untuk Pembiayaan Kendaraan

    NERACA   Jakarta - PT Bank Bukopin Tbk (Bukopin) menyiapkan kredit modal kerja hingga Rp1 triliun untuk pembiayaan…

Tower Bersama Cetak Pendapatan Rp 1,13 Triliun

NERACA Jakarta - Kuartal pertama 2019, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mencatatkan pendapatan dan EBITDA masing-masing sebesar Rp1,13 triliun…

Anggarkan Capex Rp 1,6 Triliun - Adi Sarana Beli 6.500 Unit Armada Baru

NERACA Jakarta - Danai penambahan armada baru guna menunjang bisnisnya, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) mengalokasikan belanja modal tahun…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Jelang Lebaran 2019 - Pertumbuhan Penumpang Pesawat Turun Dua Kali Lipat

NERACA Jakarta – Pertumbuhan penumpang pesawat penerbangan domestik turun hampir dua kali lipat pada Lebaran 2019, kata Direktur Jenderal Perhubungan…

ANGGOTA DPR BERHARAP DEMO SEGERA BERAKHIR - Darmin: Aksi Demo Tak Berdampak Signifikan

Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meyakini dampak aksi demonstrasi 22 Mei 2019 tidak akan berdampak signifikan terhadap kondisi investasi…

Hasil Pilpres Diumumkan, IHSG Melesat Naik

NERACA Jakarta – Pengumuman hasil pemilihan presiden (Pilpres) Selasa (21/5) dini hari oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan menetapkan pasangan…