Perdagangan Sepekan Kemarin Turun 11,5%

NERACA

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan kemarin ditutup koreksi sebesar 0,26% ke level 6.521,66 dari 6.538,64 pada penutupan pada pekan sebelumnya. Sedangkan nilai kapitalisasi bursa mengalami penurunan sebesar 0,29% menjadi sebesar Rp7.409,89 triliun dari Rp7.431,27 triliun pada penutupan pekan sebelumnya.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin disebutkan, rata-rata nilai perdagangan selama sepekan kemarin mengalami penurunan sebesar 11,55% menjadi Rp8,89 trilliun dari Rp10,04 trilliun pada pekan sebelumnya. Kemudian untuk rata-rata frekuensi transaksi harian BEI mengalami pelemahan sebesar 7,43% menjadi 440,56 ribu kali transaksi dari 475,92 ribu kali transaksi dari pekan lalu.

Sedangkan rata-rata volume transaksi harian BEI masih mengalami peningkatan sebesar 4,52% menjadi 13,79 miliar unit saham dari 13,20 miliar unit saham dari pekan lalu. BEI mencatat pada pekan kemarin investor asing melakukan beli bersih sebesar Rp212 triliun dan sampai dengan pekan kedua di Februari tahun 2019 investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp14,30 triliun.

Terkoreksinya IHSG pada perdagangan Jum’at akhir pekan kemarin sebesar 14,79 poin menjadi 6.521,66, menurut analis Indopremier Sekuritas, Mino karena sentimen global. Dimana batalnya pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping membuat tensi perang dagang kembali meningkat setelah sebelumnya menunjukkan tanda-tanda mereda.”Untuk IHSG pelemahannya lebih didorong oleh faktor eksternal yaitu terkait dengan tidak jadinya pertemuan antara presiden Amerika dan China untuk menyelesaikan perselisihan dagang sebelum bulan Maret, serta pelemahan harga komoditas," ujar Mino.

Sepekan kemarin, BEI juga mencatatkan obligasi berkelanjutan I XL Axiata Tahap II Tahun 2019 sebesar Rp 634 miliar dan sukuk ijarah berkelanjutan II XL Axiata Tahap II Tahun 2019 sebesar Rp 640 miliar. Kemudian ada obligasi berkelanjutan II Tiphone Tahap I Tahun 2019 yang diterbitkan olehPT Tiphone Mobile Indonesia Tbk. (TELE)dengan nilai nominal sebesar Rp53 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 11,5% per tahun dengan jangka waktu 370 hari kalender sejak tanggal emisi. Total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang tahun 2019 adalah 9 Emisi dari 7 Emiten senilai Rp4,11 Triliun.

Dengan kedua pencatatan ini, maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 387 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp413,67 triliun dan US$47,5 juta, diterbitkan oleh 117 emiten. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 100 seri dengan nilai nominal Rp2430,01 triliun dan US$400 juta. EBA sebanyak 11 emisi senilai Rp9,55 triliun.

BERITA TERKAIT

IMF Desak Negara-negara Hindari Kebijakan Perdagangan Terdistorsi

    NERACA   Jakarta - Ketegangan perdagangan sejauh ini tidak secara signifikan mempengaruhi ketidakseimbangan neraca berjalan global, tetapi membebani…

BI Yakin Arus Modal Asing Tetap Deras - Suku Bunga Acuan Turun

      NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini aliran modal asing akan tetap masuk…

Pendapatan Grahamas Citrawisata Turun 10,13%

Semester pertama 2019, PT Grahamas Citrawisata Tbk (GMCW) mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 10,13% menjadi Rp13,3 miliar dari periode yang sama…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Genjot Pertumbuhan KPR, BTN Gandeng TNI

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk terus memperluas kerjasamanya. Setelah awal…

Perluas Inklusi Keuangan Lewat Inovasi Layanan Kekinian

Istilah fintech (Financial Technology)  kini bukan hal yang asing didengar seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri digital saat ini. Bergerak dinamis perubahan industri…

Bantah Kendalikan Harga Saham - Bliss Properti Siap Tempuh Jalur Hukum

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA) angkat bicara soal tuduhan soal mengendalikan harga saham yang…