BEI Dorong BTPN Penuhi Free Float Saham - Pasca Diakuisisi SMBC

NERACA

Jakarta – Pasca rampungnya proses akuisisi dan penggabungan usaha PT Bank BTPN Tbk (BTPN) dengan Sumitomo Mitsui Bank Corporation (SMBC) menyisakan kepemilikan publik hanya sebesar 1,49% saja. Merespon hal tersebu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meminta tanggapan pihak BTPN untuk pemenuhan jumlah free float saham. “Kami sudah berkoordinasi dengan Tim BTPN terkait rencana mereka secara spesifik untuk disampaikan ke bursa termasuk timelinenya. Kami masih menunggu tanggapan mereka,”kata Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, IGD N Yetna Setia di Jakarta, kemarin.

Menurut peraturan bursa No. I-A tentang pencatatan saham dan efek ekuitas lainnya yang diterbikan perusahaan tercatat, ketentuan free float diatur dalam ketentuan V.1, yakni jumlah saham yang dimiliki pemengang saham non pengendali dan bukan pemegang saham utama paling kurang 50 juta saham dan minimal 7,5% dari jumlah saham dalam modal disetor.

Dengan demikian, artinya BTPN sebagai perusahaan tercatat tak memenuhi kewajibannya sebagai perusahaan tercatat. Adapun bank hasil penggabungan usaha ini telah resmi beroperasi pada awal bulan Februari ini. Dengan adanya penggabungan usaha ini, maka struktur pemegang sahamnya juga mengalami perubahan. Dimana Sumitomo Mitsui Banking Corporation memiliki porsi saham 97,34%, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 0,15%, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 1,02% dan publik 1,49%.

Pasca masuknya SMBC sebagai pemegang saham pengendali, BTPN berencana menjadi bank BUKU IV di 2021 sama seperti lima bank raksasa lainnya di Indonesia.”Kami berharap dan memperkirakan, kami tumbuh saja secara organik dari laba ditahan dan kemungkinan di 2021 masuk BUKU IV tercapai," kata Direktur Utama Bank BTPN, Ongki Wanadjati Dana.

Modal BTPN saat ini, setelah penggabungan dengan PT Sumitomo Mitsui Banking Corporation Indonesia (SMBCI), mencapai Rp25 triliun. Untuk mencapai bank BUKU IV atau kelompok bank modal terbesar di Indonesia, BTPN tinggal membutuhkan modal Rp5 triliun saja. Jika BTPN berhasil menyamakan posisi dengan lima bank BUKU IV, perusahaan akan memilki keleluasaan untuk ekspansi bisnis di domestik, sekaligus mempermudah penetrasi ke pasar regional Asia Tenggara.

Namun dalam waktu dekat ini, BTPN masih ingin mengoptimalkan bisnis perbankan di ritel dan korporasi setelah merger. Tidak hanya itu, selain mengembangkan segmen korporasi, perusahaan juga akan menjajal potensi segmen baru yang belum tersentuh, antara lain segmen komersial, atau UKM dengan cakupan bisnis yang lebih besar dan mengembangkan pembiayaan yang mencakup bisnis ritel.

BERITA TERKAIT

Lepas 414 Juta Saham Ke Publik - Telefast Indonesia Bidik Dana IPO Rp 80 Miliar

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan emiten di pasar modal, PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) bakal membawa anak usahanya PT…

Lunasi Utang Jatuh Tempo - APLN Berharap Suntikan Pemegang Saham

NERACA Jakarta – Dalam rangka menyehatkan kinerja keuangan dan termasuk memangkas beban utang, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) terus…

Energy Watch: Saatnya Dorong Peningkatan Pelayanan PLN

    NERACA   Jakarta - Upaya PLN untuk mengaktifkan kembali aliran listrik setelah 6 jam padam dipandang Direktur Eksekutif…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Debat Calon Ketum HIPMI - Para Peserta Unjuk Kepiawan Memimpin

Menjelang munas Himpunan pengusaha muda Indonesia (HIPMI) ke XVI tanggal 16 September 2019 mendatang, 4 Calon Ketua Umum (Caketum) HIPMI,…

Lepas 414 Juta Saham Ke Publik - Telefast Indonesia Bidik Dana IPO Rp 80 Miliar

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan emiten di pasar modal, PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) bakal membawa anak usahanya PT…

Lunasi Utang Jatuh Tempo - APLN Berharap Suntikan Pemegang Saham

NERACA Jakarta – Dalam rangka menyehatkan kinerja keuangan dan termasuk memangkas beban utang, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) terus…