Asosiasi Minta Ada Kebijakan Pemerintah Untuk Peremajaan Truk - Sektor Logistik

NERACA

Jakarta – Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) berharap pemerintah mempunyai instrumen atau kebijakan yang bisa menstimulus reinvestasi peremajaan truk-truk nasional yang sudah tua.

"Kami melihat betapa butuhnya terhadap peremajaan truk-truk kita. Kami butuh instrumen dari pemerintah, misalnya stimulus di perpajakan untuk reinvestasi terhadap peremajaan truk-truk yang sudah tua," kata Wakil Ketua Umum Aptrindo Nofrisel di Kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, disalin dari Antara.

Nofrisel menjelaskan bahwa saat ini Aptrindo mengelola 5.000-7.000 truk nasional, namun sebagian besar kondisinya sudah tua sehingga dibutuhkan peremajaan. Ia menilai kondisi truk yang sudah tua berimplikasi terhadap kenaikan total biaya logistik yang lebih mahal, dibandingkan dengan operasional menggunakan truk yang lebih perfomatif.

"Truk kami itu kebanyakan sudah agak tua, otomatis agak lambat, sepanjang jalan implikasinya butuh banyak biaya, baik orang, maupun bensin, sehingga jatuhnya lebih mahal," kata dia.

Ia menambahkan selain peremajaan, sistem logistik di Indonesia yang perlu diperbaiki adalah integrasi antarmoda transportasi baik jalur darat, laut dan udara. Menurut dia, saat ini pengiriman barang dari pelabuhan atau bandara belum bisa terkoneksi langsung dengan transportasi darat.

Aptrindo juga berharap tarif tol Trans Jawa dari Jakarta menuju Surabaya untuk kendaraan golongan V (truk dengan lima gandar atau lebih) bisa turun setidaknya 20 persen. Penerapan tarif baru tol Trans Jawa ini berdampak signifikan terhadap biaya yang harus dibebani pengusaha. Ada pun tarif tol yang harus dibayar golongan kendaraan truk dari Jakarta-Surabaya sebesar Rp1.382.500.

Sebelum tarif tol Trans Jawa ini ditetapkan, biaya logistik untuk jalur darat hanya sekitar Rp500.000. Komponen biaya logistik melalui jalur darat berkontribusi 39 persen dari keseluruhan biaya. Oleh karena itu, Aptrindo menilai bahwa terjadi kenaikan dari struktur total biaya pengiriman yang mengakibatkan harga jual yang dikenakan ke konsumen lebih mahal.

Sementara itu Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) menilai tingginya tarif Surat Muatan Udara (SMU) yang membuat kenaikan biaya kargo berdampak pada konsumen, khususnya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Ketua Umum Asperindo Mohamad Feriadi mengatakan maskapai udara telah beberapa kali menaikkan tarif kargo sejak 2018. Hingga Januari 2019, kenaikan tarif kargo tersebut sudah melebihi 300 persen.

"Berapa pun biaya kenaikan itu yang harus menanggung 'user'. User keberatan di saat sekarang ini UMKM tumbuh dan mulai menjual produknya ke market place. Sekarang mereka mengatakan beban sangat berat," kata Feriadi saat ditemui di Gedung Ali Wardhana Kemenko Perekonomian Jakarta, Rabu (6/2).

Ia menjelaskan salah satu maskapai udara, yakni Garuda Indonesia, bahkan sudah melakukan penyesuaian tarif kargo selama enam kali, yakni pada Juni, Oktober (dua kali) dan November 2018, serta pada Januari 2019 sebanyak dua kali. Persentase kenaikan total mencapai lebih dari 300 persen.

Pelaku usaha yang tergabung dalam Asperindo umumnya melakukan pengiriman jasa menggunakan pesawat udara. Dengan adanya kenaikan biaya kargo ini, konsumen UMKM pun mengeluhkan ongkos kirim yang justru lebih mahal daripada harga produknya.

Selain itu, tenggat waktu antara pemberitahuan dan penerapan kenaikan tarif kargo ini dinilai sangat cepat karena para perusahaan penyedia jasa logistik ini umumnya memiliki pelanggan tidak hanya dari ritel, melainkan korporasi yang sudah terikat kontrak.

"Kalau bicara 'customer', basisnya ini kontrak korporat. Pada saat terjadi kenaikan, umumnya di dalam kontrak disebutkan harus ada pemberitahuan. Banyak teman-teman anggota yang melakukan kenaikan tahun lalu tiba-tiba tahun ini naik lagi. Ini sulit bagi kita," kata Feriadi sebagaimana disalin dari laman kantor berita Antara.

Ia menambahkan bahwa Asperindo telah berkomunikasi dengan anggota perusahaan penyedia jasa logistik sejak November tahun lalu terkait kenaikan tarif kargo. Ia memastikan anggota Asperindo sudah menaikkan tarif pengiriman barang secara bervariasi sesuai ketentuan masing-masing perusahaan. Selain itu, anggota Asperindo juga didorong untuk mengalihkan pengiriman barang dari lewat udara menjadi jalur darat.

Aptrindo mengharapkan tarif Jalan Tol Trans-Jawa dari Jakarta menuju Surabaya untuk truk turun sebesar 20 persen. Nofrisel mengatakan penerapan tarif baru Tol Trans-Jawa ini berdampak signifikan terhadap biaya yang harus ditanggung pengusaha.

Menurut dia, untuk kendaraan golongan V yakni truk dengan lima gandar atau lebih, tarif tol Jakarta-Surabaya yang harus dibayar mencapai sebesar Rp1,382 juta. "Biaya untuk jalur darat itu berkontribusi 39 persen dari total logistik. Kalau bisa menurunkan atau menaikkan tarif yang berimplikasi pada jalur darat, maka pengaruhnya akan besar sekali. Harapan kita tarif ini bisa turun sekitar 20 persen," katanya.

BERITA TERKAIT

Perkuat Bisnis Logistik - Adi Sarana Bikin Perusahaan Patungan

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan layanan bisnis logistik, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menggandeng penyedia platform dagang elektronik atau e-commerce…

Lewat Tol Trans Jawa, Angkutan Logistik Layak Disubsidi

  NERACA Jakarta - Tarif angkutan logistik tertentu di jalan tol, khususnya Tol Trans Jawa dinilai layak disubsidi sebagai solusi…

Berbagai Kebijakan Disiapkan Tarik Investasi Manufaktur

NERACA Jakarta – Pemerintah terus berupaya mendorong peningkatan investasi di industri manufaktur, karena sektor tersebut berperan penting dalam menopang pertumbuhan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sektor Pangan - Harga Beras di Indonesia Termasuk Murah di Pasar Internasional

NERACA Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan harga beras di tingkat eceran masih terjangkau oleh masyarakat dan…

Harga Minyak Naik Didukung Optimisme Perdagangan

NERACA Jakarta – Harga minyak terus menguat pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena pasar didukung oleh tanda-tanda kemajuan…

Agar Pemerintah Benahi Kekacauan Tata Niaga Impor Pangan

NERACA Jakarta – Pemerintah diminta membenahi kekacauan tata niaga impor pangan nasional terutama yang terkait dengan tata produksi, distribusi, serta…