Makanan Cepat Saji Berisiko Sebabkan Obesitas

Wanita asal Kalimantan Tengah Titi Wati yang mengalami masalah obsesitas sudah menjalani operasi untuk menurunkan berat badan. Ahli gizi Rita Ramayulis menilai kasus obesitas yang dialami Titi Wati, perempuan berbobot 220 kilogram asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah terjadi akibat dari kebiasaan makan dan pola hidup tidak sehat.

Kebiasaan makan tak sehat ini juga disebabkan oleh konsumsi makanan siap saji. Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan Doddy Izwardy mengatakan terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji dan makanan olahan dengan kadar gula, garam, dan lemak tinggi merupakan faktor yang sangat memengaruhi kondisi kelebihan berat badan atau obesitas. "Tantangan terberat yang kita hadapi adalah makanan olahan yang begitu masif, itu yang tidak bisa kita hadapi," kata Doddy dikutip dari Antara.

Saat ini, kata dia, Indonesia masih lemah dalam hal acuan label pangan yang menginformasikan kandungan gula, garam, lemak (GGL) tinggi tersebut. Seharusnya, kata Doddy, pola konsumsi masyarakat disesuaikan dengan angka kecukupan gizi dan pedoman gizi seimbang.

Selain itu, dia juga menganjurkan masyarakat untuk membaca label kandungan gizi di setiap makanan olahan saat membelinya agar bisa memahami sebatas mana yang harus dikonsumsi. "PP-nya sedang diinisiasi oleh BPOM, kami minta BPOM untuk hati-hati dalam memberikan promosi terhadap makanan-makanan yang tidak bergizi baik, bukan tidak sehat tapi tidak bergizi baik," kata Doddy.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono sebelumnya mengatakan Kemenkes telah mengkomunikasikan hal terkait pelabelan pada makanan dengan kadar GGL tinggi.

Sayangnya, sampai saat ini belum membuahkan hasil. Kemenkes memberikan usul untuk melabeli makanan dengan kadar GGL tinggi dengan logo merah agar masyarakat sendiri, khususnya penderita penyakit hipertensi dan diabetes, bisa menghindari makanan olahan tinggi GGL

BERITA TERKAIT

Cegah Perubahan Iklim dengan Atasi Obesitas dan Kurang Gizi

Perubahan iklim tak cuma membuat cuaca jadi tak menentu, tapi juga berhubungan erat dengan masalah gizi seperti obesitas dan kelaparan.…

Bantu Korban Tsunami Selat Sunda - Danamon Peduli Gelar Cepat Tanggap Bencana

Yayasan Danamon Peduli melalui relawan karyawan Danamon Group (Danamon, Adira Finance, Adira Insurance) bersama Korem 064 Maulana Yusuf (Serang) dan…

BPOM Gandeng Pemda dan Akademisi Tingkatkan Pengawasan Obat dan Makanan di Sumut

BPOM Gandeng Pemda dan Akademisi Tingkatkan Pengawasan Obat dan Makanan di Sumut NERACA Medan, Sumatera Utara - Dalam rangka meningkatkan…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Peneliti Temukan Obat Baru untuk Kanker Stadium Lanjut

Peneliti memberikan harapan baru bagi penderita penyakit ganas, kanker stadium lanjut. Sekelompok peneliti di Inggris berhasil menemukan obat yang dapat…

Cegah Perubahan Iklim dengan Atasi Obesitas dan Kurang Gizi

Perubahan iklim tak cuma membuat cuaca jadi tak menentu, tapi juga berhubungan erat dengan masalah gizi seperti obesitas dan kelaparan.…

Kratom, Dilema Daun Ajaib dan Zat Berbahaya

Jika menyebut kopi bisa dipastikan hampir semua orang akan paham arah pembicaraan, namun ceritanya akan ketika bertemu dengan kata Kratom…