Situasi Demam Berdarah di Indonesia Cenderung Fluktuatif

Demam berdarah dengue (DBD) masih mengancam Indonesia, terutama saat memasuki musim hujan. Wilayah DKI Jakarta bahkan dinyatakan memasuki fase waspada DBD selama Januari hingga Maret 2019. Sejak pertama kali ditemukan pada 1968, jumlah kasus DBD terus meningkat. Beberapa tahun belakangan, situasi DBD di Indonesia cenderung fluktuatif dikutip dari CNN Indonesia.com.

DBD merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan umumnya menyerang pada usia anak-anak kurang dari 15 tahun dan juga dapat terjadi pada orang dewasa. Wilayah Indonesia yang beriklim tropis menjadi tempat yang disenangi nyamuk untuk berkembang biak.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia merupakan negara kedua dengan kasus DBD terbesar di antara 30 negara wilayah endemis. Berdasarkan data terbaru dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik mengenai situasi DBD di Indonesia, jumlah kasus DBD mengalami fluktuasi. Pada 2014, jumlah kasus DBD di 34 provinsi mencapai 100.347. Setahun berselang, angka itu meningkat menjadi 126.675 kasus pada 2015.

Pada 2016, jumlah kasus DBD kembali melonjak menjadi 204.171 kasus. Namun, pada 2017 jumlah itu menurun signifikan menjadi 68.407 kasus. Pada 2017, jumlah kasus tertinggi terjadi di tiga provinsi Pulau Jawa dengan masing-masing Jawa Barat sebanyak 10.016 kasus, Jawa Timur 7.838 kasus, dan Jawa Tengah 7.400 kasus. Jumlah kasus terendah terjadi di Provinsi Maluku Utara dengan 37 kasus.

Jumlah kematian akibat DBD pada 2017 juga menurun signifikan menjadi 493 kematian dari sebelumnya 1.598 kematian. Dalam 10 tahun terakhir, angka kesakitan juga mengalami fluktuasi. Dari 2008 hingga 2010 cenderung tinggi rata-rata di angka 60 per 100 ribu penduduk, lalu mengalami penurunan drastis pada 2011 sebanyak 27,67 per 100 ribu penduduk.

Setelah itu, kecenderungan tren meningkat sampai 2016 menjadi 78,85 per 100 ribu penduduk dan kembali turun pada 2017 menjadi 26,12 per 100 ribu penduduk. Pemerintah juga terus melakukan upaya pencegahan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan pengendalian secara lingkungan melalui program 3M yakni menguras, menutup, dan mengubur tempat nyamuk bertelur.

Sementara itu, Wilayah Jakarta ditetapkan memasuki fase waspada demam berdarah dengue (DBD) sepanjang Januari hingga Maret 2019. Tiga wilayah di antaranya, yakni Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur, masuk dalam kategori waspada untuk bulan Januari. Sementara pada bulan Februari dan Maret, seluruh wilayah Jakarta memasuki kategori waspada.

Prediksi ini dikeluarkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai peringatan dini kepada masyarakat untuk menghadapi penyakit DBD. Sebab, tak main-main, jika tak segera diobati, DBD bisa berujung kematian.

Mengutip situs kesehatan WebMD, diperkirakan ada 390 juta kasus infeksi dengue di seluruh dunia pada setiap tahunnya. Sekitar 96 juta di antaranya berujung dengan penyakit DBD. Sebagian besar kasus terjadi di sejumlah wilayah tropis dunia, termasuk salah satunya Indonesia. Sayangnya, gejalaringan DBD kerap disalahartikan sebagai gejala flu atau infeksi virus ringan pada umumnya. Anak- anak dan seseorang yang belum pernah terinfeksi sebelumnya cenderung mengalami gejala yang lebih ringan daripada orang dewasa atau mereka yang pernah terjangkit.

Namun, masalah dapat berkembang menjadi lebih serius. Penderita DBD akan mulai mengalami komplikasi dengan demam tinggi, kerusakan pada getah bening dan pembuluh darah, pendarahan dari hidung dan gusi, pembesaran hati, serta kegagalan sistem peredaran darah. Gejala-gejala ini bisa berkembang menjadi pendarahan hebat yang disebut dengue shock syndrome (DSS).

Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Peningkatan curah hujan dan perubahan iklim menjadi waktu tepat bagi nyamuk untuk berkembang biak. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menghindari DBD. Berikuti mengutip situs kesehatan Medical News Today.

1. Pakaian tertutup

Kurangi jumlah bagian kulit yang terpapar cahaya matahari. Gunakan pakaian tertutup dengan baju lengan panjang dan celana panjang. Jangan lupa juga untuk mengenakan kaus kaki dan topi. Hal ini dilakukan untuk menghindari nyamuk bertengger di permukaan kulit Anda.

2. Krim anti-nyamuk

Penting tak penting, Anda harus mulai mempertimbangkan penggunaan krim anti-nyamuk untuk melindungi kulit dari gigitan nyamuk. Gunakan krim anti-nyamuk dengan konsentrasi dietiltoluamid (DEET) sekitar 10 persen atau lebih tinggi. Namun, hindari penggunaan krim berbahan DEET pada anak kecil.

3. Kelambu

Meski terasa agak kolot, namun penggunaan kelambu penting untuk membuat nyamuk tak berani mendekat. Ini akan melindungi diri Anda saat tertidur lelap di malam hari.

4. Hindari aroma berlebih

Anda disarankan untuk tidak terlalu berlebihan menggunakan produk-produk kecantikan beraroma seperti sabun dan parfum. Aroma wangi sangat menarik perhatian nyamuk.

5. Atur waktu keluar rumah

Cobalah untuk tidak berada di luar rumah saat matahari mulai terbit, matahari mulai terbenam, dan sore hari.

6. Mengatasi genangan air

Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di air yang bersih dan tergenang. Memeriksa dan membuang air yang tergenang dapat membantu mengurangi risiko penularan DBD.

BERITA TERKAIT

Indonesia 2045, Antara Lumbung Pangan Dunia dan Krisis Pangan

Oleh : Abdul Aziz, Mahasiswa Fisipol di PTN Jakarta   Masa kampanye yang tinggal beberapa minggu lagi membuat intensitas kampanye…

Optimistis di 2019, BMW Indonesia Bakal Rilis 10 Mobil Baru

BMW Grup Indonesia akan meluncurkan sebanyak 10 mobil terbaru pada 2019, menunjukkan kepercayaan pabrikan mobil mewah asal Jerman itu dalam…

Ini Tantangan Baru Industri Pariwisata di Indonesia

Salah satu usaha mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun depan, Kementerian Pariwisata akan lebih fokus menggarap segmen pasar…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Peneliti Temukan Obat Baru untuk Kanker Stadium Lanjut

Peneliti memberikan harapan baru bagi penderita penyakit ganas, kanker stadium lanjut. Sekelompok peneliti di Inggris berhasil menemukan obat yang dapat…

Cegah Perubahan Iklim dengan Atasi Obesitas dan Kurang Gizi

Perubahan iklim tak cuma membuat cuaca jadi tak menentu, tapi juga berhubungan erat dengan masalah gizi seperti obesitas dan kelaparan.…

Kratom, Dilema Daun Ajaib dan Zat Berbahaya

Jika menyebut kopi bisa dipastikan hampir semua orang akan paham arah pembicaraan, namun ceritanya akan ketika bertemu dengan kata Kratom…