2019, Saat Tepat Investasi Lahan di Bali

NERACA

Jakarta- Peningkatan industri sektor pariwisata di Pulau Dewata, Bali menyebabkan bertambahnya minat para investor untuk mencari peluang bisnis di Bali. Seperti diketahui, dalam dua tahun terakhir, harga tanah sempat mencapai dua hingga lima kali lipat dibandingkan harga tahun sebelum adanya kenaikan.

Meski demikian, 2019 adalah saat yang tepat untuk berinvestasi lahan di Bali. Pasalnya, tahun 2019 harga tanah di Bali, tak terlalu melonjak signifikan. “Kondisi tahun politik dan pasar perumahan primer yang dua tahun belakangan tengah jenuh, memicu pelambatan kenaikan harga lahan di Bali. Ini momen yang tepat untuk berinvestasi,” ujar Direktur Marketing Permata Graha Land Group, Satya Adi, di Jakarta, kemarin.

Menurut Satya, dengan membeli tanah di Bali, investor bisa mendapatkan imbal hasil yang tinggi di tahun mendatang. Pasalnya, akibat aksi wait and see, banyak pemilik lahan yang cenderung menahan harga atau bahkan menurunkan harga lahan. Sehingga, di saat kondisi normal, imbal hasil yang didapatkan investor bisa melonjak tajam.

Dipaparkan Satya, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab tajamnya lonjakan harga tanah di Bali akhir-akhir ini. Pertama, dalam pandangan investor Bali adalah pulau yang relatif kecil. Luas tanah Bali terbatas. Kedua, industri pariwisata menjanjikan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan ke depan. Oleh karena itu, potensi nilai komersial tanah Bali juga sangat tinggi.

Untuk menjawab kebutuhan investor akan harga lahan yang terjangkau di kawasan Uluwatu, Permata Graha Land melalui anak perusahaannya PT Nuansa Permata Bali mulai memasarkan tanah kavling di wilayah Uluwatu Bali, yaitu Marina Clifftop. Sementara itu, Surya. General Manager Proyek Marina Clifftop menuturkan, proyek ini hanya memiliki 16 unit kavling ini dikelilingi oleh sejumlah hotel dan resort berskala internasional, seperti Banyan Tree, Karma Kandara, Sinaran Surga, dan The Ungasan Luxury Villa dan dipasarkan mulai dari Rp 1 miliar. Saat ini, lahan kaving Clifftop dipasarkan mulai Rp 1 miliar dengan ukuran 60-100 meterpersegi dan cicilan Rp 5 jutaan tanpa DP dan juga terdapat promo bayar 80% dianggap lunas.

Tanah kavling ini, lanjut Surya, letaknya di atas tebing berbukit dan view Pantai Melasti, kata Satya dan memiliki sea view dan cliff view. Artinya, penghuninya dipastikan akan dimanjakan oleh panorama yang menakjubkan dan pemandangan alam khas Bali. Menurut Surya, lokasi merupakan salah satu faktor yng penting untuk dicermati jika ingin mendapatkan nilai investasi yang menguntungkan. “Wilayah Bali Selatan masih sangat menjanjikan, karena di kondisi normal kenaikan harganya bisa mencapai 30% per tahun,” kata dia.

BERITA TERKAIT

OJK Tetapkan Bali United Sebagai Efek Syariah

NERACA Jakarta -Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan saham PT Bali Bintang Sejahtera Tbk atau Bali United sebagai efek syariah. Penetapan…

AKIBAT PERANG DAGANG DAN FAKTOR POLITIK - Asumsi Makro 2019 Diprediksi Meleset dari Target

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 tidak sesuai target. Penyebabnya faktor…

Geliat Bisnis Properti Pasca Pilpres - Vila Ratnamaya Bali Berhasil Terjual 50%

NERACA Jakarta -  Di tengah lesunya pasar properti dan suhu politik yang memanas, ternyata tidak memengaruhi pemasaran Vila Ratnamaya Bali…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pendapatan Urban Jakarta Tumbuh 195%

Kuartal pertama 2019, PT Urban Jakarta Propertindo Tbk (URBN) mencatatkan pendapatan Rp117,9 miliar atau naik 195% dibanding priode yang sama…

HOKI Taksir Penjualan Semester I Tumbuh 15%

NERACA Jakarta – Meskipun mencatatkan penurunan laba bersih di kuartal pertama 2019 karena telat panen, emiten produsen beras kemasan PT…

Siapkan Capex Rp 28 Miliar - Bali United Bidik Laba Operasi Rp 10 Miliar

NERACA Jakarta – Menjadi klub sepakbola pertama di Asean yang sahamnya tercatat di pasar modal, PT Bali Bintang Sejahtera Tbk…