Nilai Tukar Petani Karet Sumsel Terjun Bebas

Nilai Tukar Petani Karet Sumsel Terjun Bebas

NERACA

Palembang - Nilai Tukar Petani (NTP) khususnya perkebunan karet di Sumatera Selatan (Sumsel) terjun bebas sepanjang tahun 2018 karena jatuhnya harga di pasar ekspor.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, berdasarkan catatan BPS diketahui NTP petani perkebunan di Sumsel tidak mencapai angka 100 yang artinya petani tidak mendapatkan untung alias biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar dari yang diperoleh. Data terakhir menunjukkan, pada November 2018 tercatat hanya 80,74 dan turun lagi di Desember menjadi 78,60.

"Tentunya angka ini cukup memprihatinkan karena NTP ini mewakili kondisi rill di pedesaan. Yang lebih menyedihkan lagi, Sumsel ini untuk stok pangannya menjadi rangking kelima di Indonesia," kata dia di Palembang, dikutip dari Antara, kemarin.

Menurut Endang, jika tidak dicarikan solusinya maka akan berdampak pada kemiskinan di desa-desa yang warganya menggantungkan hidup pada perkebunan karet."Ini menjadi warning bagi pemerintah provinsi, apalagi ada beberapa kabupaten yang hidup masyarakatnya bergantung pada perkebunan karet," kata dia.

Untuk itu, perlu adanya upaya menumbuhkan sektor-sektor lain selain perkebunan karet. Ia mencontohkan, seperti membangun sektor perikanan, karena sejauh ini selalu menunjukkan pertumbuhan positif. Berdasarkan data BPS Sumsel diketahui NTP perikanan mencapai 101,67 pada November 2018 menjadi 101,59 pada Desember 2018 dari perikanan tangkap dan budidaya.

Selain itu yang juga berpotensi selain perkebunan karet yakni tanaman pangan dengan NTP 102,11 per Desember 2018, holtikultura dengan NTP 104,96, perternakan 104,86. Terkait ini, Kepala Bidang Perekonomian Pemerintah Provinsi Sumsel Afrian Joni mengatakan dibutuhkan upaya masif untuk mengatasi persoalan ini. Ia merujuk pada sektor perdagangan luar negeri untuk lebih aktif lagi mencari negara-negara tujuan ekspor baru.

"Selama ini karet dan batubara hanya diekspor ke negara-negara yang itu-itu saja, seperti China dan India. Seharusnya, harus mulai menjajal seperti Timur Tengah," ujar dia. Selain itu, keinginan untuk hilirisasi karet harus terus didengungkan. Ant

BERITA TERKAIT

Nilai Ekspor Banten November 2018 Turun 3,42 Persen

Nilai Ekspor Banten November 2018 Turun 3,42 Persen NERACA Serang - Nilai ekspor Banten turun 3,42 persen pada November 2018…

NILAI TUKAR RUPIAH CENDERUNG STABIL - BI Prediksi Inflasi 2019 di Bawah 3,5%

Jakarta-Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan bahwa inflasi sepanjang tahun ini akan terkendali sesuai dengan proyeksi Anggaran Pendapatan dan…

Niaga Bilateral - Indonesia-Amerika Berkomitmen Tingkatkan Nilai Perdagangan

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda menyatakan Republik Indonesia dan Amerika Serikat berkomitmen meningkatkan…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Legislator Kritisi Pembentukan Tim Akselerasi Pembangunan Jabar

Legislator Kritisi Pembentukan Tim Akselerasi Pembangunan Jabar NERACA Bandung - Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat (Jabar) Didin Supriadin mengkritisi…

Klaim Asuransi Kecelakaan Jasa Raharja Sukabumi Capai Rp20 Miliar Lebih - Sampai Desember 2018

Klaim Asuransi Kecelakaan Jasa Raharja Sukabumi Capai Rp20 Miliar Lebih Sampai Desember 2018 NERACA Sukabumi - Besaran klaim santunan kecelakaan…

Turis Lokal dan Asing Ramai Kunjungi TM Thamrin City

Turis Lokal dan Asing Ramai Kunjungi TM Thamrin City NERACA Jakarta - Trade Mall Thamrin City Jakarta kini semakin ramai…