Prospek dan Tantangan Ekonomi 2019

Oleh: Sarwani

Tahun berganti, ekonomi terus berdenyut memenuhi kebutuhan manusia mencapai kesejahteraan dan kemakmuran baru. Harapan dan prospek dikedepankan, namun tantangan bisa jadi batu sandungan untuk mewujudkan.

Masyarakat berharap ekonomi terus tumbuh di tahun politik, seperti halnya pemerintah dan Bank Indonesia yang memperkirakan prospek ekonomi akan tetap baik sepanjang 2019.Yang menjadi dasar optimisme tersebut adalah stabilitas ekonomi nasional.

Ekonomi Indonesia masih akan tumbuh di kisaran 5-5,4 persen, dipayungi oleh inflasi yang bergerak di seputaran 2,5-4,5 persen, sementara defisit transaksi berjalan diharapkan lebih rendah dari 2018 dan akan berada di level 2,5 persen terhadap produk domestik bruto.

Pertumbuhan ekonomi akan ditopang oleh kenaikan kredit di kisaran 10-12 persen dan kenaikan pengumpulan dana pihak ketiga oleh perbankan sebesar 8-10 persen. BI mencoba membangun prospek ekonomi dan optimisme industri perbankan dengan menjaga daya tarik pasar keuangan tetap baik sehingga bisa mendukung pembiayaan.

Prospek ekonomi yang cukup baik tersebut dibayang-bayangi oleh tantangan lokal maupun global yang tidak ringan. Pekerjaan rumah yang harus diselesaikan segera adalah menurunkan defisit, bahkan harus menjadikan neraca transaksi berjalan surplus pada tahun 2019. Defisit yang terjadi sepanjang 2018 menimbulkan persoalan depresiasi rupiah yang memerlukan respons kebijakan yang tepat.

Rata-rata kurs rupiah pada 2019 diperkirakan berada di level Rp15.250 per dolar AS. Secara umum fluktuasi nilai tukar rupiah akan lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pelemahan rupiah akan relatif tinggi karena faktor melebarnya defisit transaksi berjalan.

Sementara itu, melandainya pertumbuhan konsumsi rumah tangga menjadi tantangan besar untuk menggapai pertumbuhan ekonomi seperti yang ditargetkan. Investasi yang melambat, turunnya peringkat kemudahan berusaha, dan pelaksanaan pilpres menambah dinamika ekonomi 2019.

Indonesia juga harus menghadapi kondisi keseimbangan baru dunia akibat kebijakan Bank Sentral AS menormalisasi sektor moneternya dengan menaikkan suku bunga acuan, memicu pelarian modal ke luar Tanah Air.

Pada saat bersamaan pertumbuhan ekonomi dunia juga diperkirakan melemah, menyusul pelambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat akibat ekspansi fiskal yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2018. Dampaknya akan terlihat pada harga komoditas yang diperkirakan tidak akan tumbuh seperti tahun sebelumnya.

Indonesia juga masih akan terkena dampak perang dagang yang dilancarkan AS kepada sejumlah mitra dagang terutama China yang akan semakin dirasakan sektor riil. Perang dagang itu berdampak pada memburuknya kinerja ekspor kedua negara tersebut. Indonesia bukan negara yang terlibat langsung di dalamnya, namun keduanya merupakan mitra dagang utama bagi Indonesia.

Melihat prospek dan tantangan yang dihadapi, antisipasi apa yang harus disiapkan pemerintah agar ekonomi dapat tumbuh sesuai dengan yang ditargetkan? Strategi apa yang perlu disusun jika kondisi ekonomi global memburuk? Sebaliknya, jika ekonomi global membaik, kebijakan apa yang perlu diambil pemerintah agar berdampak positif terhadap Indonesia?

Peran seperti apa yang diharapkan dari sektor swasta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2019? Insentif dan fasilitas apa yang perlu diberikan agar sektor riil tumbuh dan berkontribusi pada peningkatan ekspor? Upaya apa yang harus dilakukan untuk menarik lebih banyak investasi? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Korupsi dan Transaksi Bursa

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Perdagangan bursa di awal tahun 2019 mencetak IHSG…

Polemik Harga Tiket, Dugaan Kartel dan Penyelamatan Maskapai

Oleh: Royke Sinaga Pesawat terbang sebagai moda transportasi harus diakui tetap menjadi favorit bagi masyarakat. Selain dapat menjelajah jarak ribuan…

BEI Suspensi Saham BDMN dan BBNP

PT  Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara waktu perdagangan dua saham perbankan yang direncanakan akan melakukan merger usaha pada perdagangan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Neraca Perdagangan Indonesia Berada di Level Aman

    Oleh: Safrizal Fajar, Pemerhati Ekonomi Pembangunan   Sebagai negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang meroket, permintaan pasar dalam…

Debat Perdana Sebagai Momentum Kemenangan Demokrasi

    Oleh:  Ahmad Harris, Mahasiswa FISIP Universitas Dharma Agung               Debat perdana capres-cawapres dalam menyongsong Pemilu 2019 menarik…

Mengaborsi Koperasi

Oleh: Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Profesor David Henly, pakar hukum adat dari Universitas Leiden yang meneliti koperasi…