Peta Jalan Making Indonesia 4.0 Revitalisasi Sektor Manufaktur

NERACA

Jakarta – Industri manufaktur berperan penting dalam upaya menggenjot nilai investasi dan ekspor sehingga menjadi sektor andalan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen merevitalisasi industri manufaktur melalui pelaksanaan peta jalan Making Indonesia 4.0 agar juga siap memasuki era revolusi industri 4.0.

“Saat ini, sektor industri berkontribusi terhadap PDB sebesar 20 persen, kemudian untuk perpajakan sekitar 30 persen, dan ekspor hingga 74 persen. Capaian ini yang terbesar disumbangkan dari lima sektor manufaktur di dalam Making Indonesia 4.0,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Diskusi Outlook Perekonomian Indonesia 2019 di Jakarta, disalin dari siaran resmi.

Kelima sektor yang dimaksud itu, yakni industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, dan industri elektronika. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, selain sektor-sektor tersebut, ada beberapa sektor lain yang juga punya potensi besar dalam menopang perekonomian nasional melalui kinerja ekspornya. “Seperti industri perhiasan dan industri pengolahan ikan,” sebutnya.

Menanggapi hal tersebut, Airlangga menyampaikan bahwa quickwins peningkatan ekspor bisa dilakukan melalui pengembangan ekspor produk hortikultura seperti pengalengan buah-buahan dan ekspor buah segar yang dilakukan di Lampung dan akan direplikasi di daerah lain. "Selain itu, otomotif juga punya kapasitas yang potensial. Ini memerlukan regulasi," kata Menperin.

Menperin menegaskan, pemerintah bertekad untuk terus menciptkan iklim bisnis yang kondusif dan memberikan kemudahan perizinan usaha agar dapat lebih menarik investasi. Sepanjang tahun 2018, diproyeksi penanaman modal dari sektor industri manufaktur mencapai Rp226,18 triliun.

“Kalau kita lihat, beberapa provinsi pertumbuhan ekonominya mampu lebih tinggi dari pertumbuhan nasional. Misalnya, Jawa Barat, Banten, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara, karena di daerah tersebut ada kawasan industri. Ini di luar Jawa Timur. Jadi, ada output industri,” paparnya.

Airlangga menjelaskan, aktivitas industri senantiasa konsisten memberikan efek berantai yang luas bagi perekonomian baik di daerah maupun nasional. Misalnya, peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa negara. Hal ini tidak terlepas dari peran peningkatan investasi sektor manufaktur.

“Indonesia saat ini masih menjadi negara tujuan utama untuk investasi. Ada beberapa investor yang sudah menyatakan minatnya ingin masuk, seperti dari Eropa dan Asia. Jadi, akan ada penambahan kapasitas baru di sektor industri otomotif, alas kaki, dan garmen,” ungkapnya.

Untuk itu, pemerintah pun telah menyediakan fasilitas insentif fiskal berupa tax holiday bagi para investor. “Tidak hanya untuk yang berinvestasi besar, tetapi bagi mereka yang berinvestasi di bawah Rp500 miliar juga diberikan mini tax holiday,” imbuhnya. Bahkan, implementasi pemberian mini tax holiday tersebut akan menyasar pula kepada industri yang berorientasi padat karya.

Sementara itu, guna semakin menggenjot nilai ekspor dari sektor industri manufaktur, diperlukan harmonisasi regulasi di lintas kementerian. Misalnya, dibutuhkan perjanjian dagang bebas atau kerja sama ekonomi yang komprehensif kepada negara potensial.

“Contohnya, industri tekstil alas kaki. Kami sedang menunggu CEPA, karena untuk ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa, kita dikenakan bea masuk 10-20 persen. Kalau itu disamakan seperti Vietnam, jadi nol persen, maka ekspor dan kapasitas kita bisa meningkat,” tutur Menperin.

Lebih lanjut, adanya perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, Indonesia menjadi salah satu negara yang diuntungkan. “Saya sudah ketemu pihak Nike dan lain lain, mereka akan shift sebagian ordernya ke Indonesia,” ujarnya.

Airlangga menambahkan, dirinya memiliki cara tersendiri dalam memandang kondisi perekonomian Indonesia. Menurutnya, sektor penggerak ekonomi nasional bak dua tangan dan dua kaki manusia. “Analogi sederhana kalau bicara ekonomi itu seperti tubuh manusia. Punya dua tangan dua kaki," ungkapnya.

Menurut Menperin, ekonomi fiskal dan moneter seperti kedua tangan. Kebijakan di dua sektor tersebut memiliki peranan besar dalam menjaga keseimbangan. Sementara itu, kedua kaki diibaratkan seperti sebuah harga komoditas dan industri manufaktur. Peran keduanya, juga cukup vital dalam menggerakkan perekonomian.

BERITA TERKAIT

Dunia Usaha - Revitalisasi Pabrik Gula Harus Didukung Inovasi Teknologi

NERACA Jakarta – Revitalisasi pabrik gula di Indonesia harus didukung adanya inovasi dalam teknologi. Pemerintah perlu membangun dan mengembangkan ekosistem…

Pengaturan Jam Operasional Kontainer di Jalan Tol

Penyebab kemacetan semakin parah di Jalan Tol Cikampek saat ini disebabkan tidak adanya pengaturan jam operasional sehingga volume jalan bebas…

Indonesia Angkat Langkah Sistematis Sektor Lingkungan Hidup dan Energi - Menteri LHK

Indonesia Angkat Langkah Sistematis Sektor Lingkungan Hidup dan Energi Menteri LHK NERACA Karuizawa, Jepang - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan,…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Minerba - Pabrik Pengolahan Nikel 230.000 Ton Ditargetkan Beroperasi 2021

NERACA Jakarta – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar bersama Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi…

Akuakultur - Penerapan Prinsip Berkelanjutan di Budidaya Tilapia Diapresiasi

NERACA Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengapresiasi komitmen penerapan budidaya berkelanjutan dalam meningkatkan produksi ikan nila nasional oleh…

Dunia Usaha - Revitalisasi Pabrik Gula Harus Didukung Inovasi Teknologi

NERACA Jakarta – Revitalisasi pabrik gula di Indonesia harus didukung adanya inovasi dalam teknologi. Pemerintah perlu membangun dan mengembangkan ekosistem…