BPS: Telur Ayam Ras Picu Inflasi Banten Pada Desember

BPS: Telur Ayam Ras Picu Inflasi Banten Pada Desember

NERACA

Serang - Kenaikan harga telur ayam ras dalam beberapa minggu terakhir ini telah memicu inflasi di Provinsi Banten pada Desember 2018 mencapai 0,63 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Agoes Soebeno di Serang, Banten, dikutip dari Antara, kemarin, mengatakan pada Desember 2018 itu selain telur ayam ras, harga barang/jasa lain yang mengalami peningkatan cukup signifikan adalah angkutan udara, daging ayam ras, bawang merah, dan cabai merah.

Ia mengatakan dari 415 jenis barang dan jasa yang survei, 235 komoditas mengalami perubahan harga, yaitu 176 komoditas mengalami kenaikan harga, sisanya 59 komoditas mengalami penurunan harga. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi selain angkutan udara, telur ayam ras, bawang merah, juga wortel, teri, dan kacang panjang. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga paling banyak antara adalah buah anggur, ikan selar/tude, kentang, personal komputer/desktop dan buah pir.

Ia mengatakan kelompok komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi Banten berturut-turut adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,382 persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,154 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,080 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,008 kelompok, kelompok sandang sebesar 0,006 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,003 persen sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar -0,004 persen.

“Dari 109 komoditas yang ada pada kelompok bahan makanan, 103 komoditas di antaranya mengalami perubahan harga. Kenaikan harga terjadi pada 73 jenis komoditas. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yang cukup besar antara lain telur ayam ras 0,12 persen, daging ayam ras 0,07 persen, bawang merah 0,05 persen, cabai merah 0,05, jeruk 0,02, kacang panjang 0,01 persen dan bawang putih sebesar 0,01 persen. Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi antara lain bayam, kentang, ketimun, melon dan anggur yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen,” kata Soebeno.

Ketiga subkelompok yang ada pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami kenaikan indeks yakni subkelompok minuman yang tidak beralkohol mengalami kenaikan indeks sebesar 0,78 persen, subkelompok makanan jadi naik 0,37 persen dan subkelompok tembakau dan minuman beralkohol mengalami kenaikan indeks 0,13 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah pada komoditas air kemasan sebesar 0,02 persen, nasi dengan lauk, mie dan siomay masing-masing sebesar 0,01 persen. Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar adalah makanan ringan/snack dengan andil deflasi sebesar 0,01 persen, sedangkan komoditas gula pasir, teh dan sirop masing-masing menyumbangkan andil deflasi kurang dari 0,01 persen.

Soebeno mengatakan secara keseluruhan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar memberikan andil inflasi sebesar 0,003 persen. Komoditas terbesar yang menyumbang andil inflasi pada kelompok ini adalah komoditas sabun cuci piring, sewa rumah, upah pembantu rumah tangga, dan cat tembok. Sementara komoditas yang memberi andil deflasi di antaranya adalah sabun detergen bubuk, pembasmi nyamuk cair, tisu, dan sabun krim detergen.

Komoditas yang memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah diapers, pembalut wanita, emas perhiasan, bahan baju katun dan sepatu dengan sumbangan andil inflasi masing-masing komoditas kurang dari 0,01 persen. Sementara itu komoditas yang memberikan andil deflasi di antaranya sandal karet sebesar dan baju kaos/T-shirt, yang masing-masing komoditas memberikan andil kurang dari 0,01 persen.

“Dari 38 komoditas yang ada pada kelompok kesehatan, 22 komoditas di antaranya mengalami koreksi harga. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi di antaranya adalah sabun mandi, tarif gunting rambut wanita, shampo, sabun mandi cair, obat dengan resep, dan hand body lotion yang masing-masing komoditas menyumbangkan andil inflasi kurang dari 0,01 persen. Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi yaitu pasta gigi, sikat gigi dan parfum,” jelas dia.

Komoditas yang memberi andil inflasi terbesar pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga adalah pakaian olahraga pria, sepeda anak, pulpen, buku tulis bergaris masing-masing memberikan andil kurang dari 0,01 persen. Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi yaitu personal computer/desktop dan televisi berwarna.

Pada Desember 2018, perkembangan harga barang dan jasa (inflasi) di tiga kota IHK di Banten adalah sebagai berikut, Kota Serang 0,64 persen, Kota Tangerang 0,63 persen dan Kota Cilegon 0,58 persen. Laju inflasi tahun kalendernya adalah Kota Serang 3,78 persen, Kota Tangerang 3,46 persen, dan Kota Cilegon 2,73 persen. Ant

BERITA TERKAIT

NILAI TUKAR RUPIAH CENDERUNG STABIL - BI Prediksi Inflasi 2019 di Bawah 3,5%

Jakarta-Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan bahwa inflasi sepanjang tahun ini akan terkendali sesuai dengan proyeksi Anggaran Pendapatan dan…

Banten Jadi Pilihan Bagi Penglaju Mencari Rumah

Banten Jadi Pilihan Bagi Penglaju Mencari Rumah NERACA Jakarta - Riset Indonesia Property Watch (IPW) mengungkapkan sebagai daerah yang berbatasan…

PoliticaWave : Jokowi Kuasai Medsos Pada Debat Pertama

PoliticaWave : Jokowi Kuasai Medsos Pada Debat Pertama NERACA Jakarta - Survei media sosial PoliticaWave menyebut bahwa pasangan capres dan…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Wagub Jabar: Pembentukan DOB Tidak Bisa Ditawar Lagi

Wagub Jabar: Pembentukan DOB Tidak Bisa Ditawar Lagi NERACA Bandung - Wakil Gubernur Jawa Barat (Wagub Jabar) Uu Ruzhanul Ulum…

KPU Kota Sukabumi Lakukan Seleksi Relasi

KPU Kota Sukabumi Lakukan Seleksi Relasi NERACA Sukabumi - Sebanyak 91 orang memenuhi persyaratan administrasi dalam seleksi penerimaan relawan demokrasi…

Nilai Ekspor Banten November 2018 Turun 3,42 Persen

Nilai Ekspor Banten November 2018 Turun 3,42 Persen NERACA Serang - Nilai ekspor Banten turun 3,42 persen pada November 2018…