Bergantung pada Bisnis Berbasis Teknologi

Oleh: Nailul Huda

Peneliti INDEF

Weekend ini saya menonton sebuah film dalam negeri yang diangkat dari sebuah sinetron legendaris yang menemani masa kecil saya. Film tersebut berjudul “Keluarga Cemara” yang bercerita mengenai sebuah keluarga yang berjuang menghadapi kenyataan pahit bahwa mereka termasuk golongan masyarakat kelas menengah ke bawah. Sang abah bekerja menarik becak pagi hingga malam hari untuk dapat menghidupi keluarganya. Namun yang menarik di film hasil remark ini adalah sang abah bukan lagi menjadi tukang becak, melainkan menjadi driver ojek online. Sang abah di sini diceritakan sebelum menjadi driver ojek online, dia bekerja sebagai pengusaha properti yang bangkrut dan sempat menjalani beberapa profesi lainnya yang menggambarkan kesusahan kehidupan dia dan keluarga, hingga akhirnya beralih menjadi driver ojek online.

Meskipun hanya sebuah film, namun kejadian yang terjadi dalam cerita panjang kehidupan pemeran utama merupakan replika yang setidaknya terjadi setelah terjadinya revolusi industri 4.0. Saat ini pekerjaan serupa dengan abah di film tersebut banyak digandrungi oleh masyarakat terutama masyarakat kelas menengah ke bawah. Faktanya, lebih dari 1,5 juta mitra transportasi online yang saat ini aktif mencari cuan dari bisnis ini. Bahkan sektor transportasi online ini menjadi penyelamat bagi ribuan orang yang terkena pemecatan guna tetap mampu menghidupi keluarganya persis seperti yang diceritakan film di awal tulisan ini.

Secara ekonomi, memang tidak mungkin banyak pekerjaan baru yang ditimbulkan dari adanya revolusi industri 4.0. Pekerjaan seperti driver ojek online, jual beli barang dagang secara online, hingga pekerjaan developer aplikasi menjadi peluang pekerjaan anak-anak milineal dan di bawahnya. Nantinya sumber daya manusia dengan skill khusus berbasiskan teknologi maupun internet of things (IOT) menjadi akan menjadi primadona di pasar tenaga kerja. Lantas apakah nanti pekerja dengan skill sederhana masih mampu bersaing? Tentu akan mampu bersaing namun tidak dengan membenturkannya. Industri yang maju selalu membutuhkan tenaga manusia sebagai pendorong utama majunya industri berbasiskan teknologi dan IOT ini.

Sesuai dengan target pemerintah Indonesia yang mematok transaksi ekonomi digital sebesar Rp1.800 triliun pada tahun 2020, bukan tidak mungkin pemerintah akan semakin menggenjot sektor-sektor yang berbasiskan teknologi dan IOT pada dua tahun mendatang. Kebutuhan tenaga kerja yang ahli di bidang tersebut juga akan semakin meningkat. Nantinya penyerapan tenaga kerja akan dialihkan dari sektor tradisional ke sektor kreatif sub sektor developer aplikasi. Pengurangan pengangguran akan sangat bergantung pada sektor ini.

Pentingnya sektor ini di masa depan bagi masyarakat, maka pemerintah perlu memberikan peraturan guna melindungi mitra dari kerugian-kerugian yang berpotensi terjadi di industri ekonomi digital seperti perlindungan sosial mitra ataupun pemberlakuan tarif kepada mitra yang terlalu rendah. Dengan perlindungan ini, ekonomi digital tidak menjadi momok menakutkan bagi pekerja di dunia ekonomi dan tidak menjadi bom bagi perekonomian. Sehingga sama seperti karakter abah di film keluarga cemara yang akhirnya mampu menghidupi keluarganya dengan tenang dan berkecukupan.

BERITA TERKAIT

Penggunaan Teknologi di Era Industri 4.0 Dongkrak Produktivitas IKM

NERACA Bogor - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan penggunaan teknologi era revolusi industri 4.0 akan mampu mendongkrak produktivitas industri manufaktur…

KONTRIBUSI TRANSPORTASI ONLINE PADA PEREKONOMIAN

kiri ke kanan. Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEBUI Paksi C.K. Walandouw, Peneliti Adjunct Alfindra Primaldhi dan Pengamat…

Teknologi Robotik Diproyeksikan Jadi “Bom Waktu” Kerek Pengangguran di Indonesia

Jakarta - Pengamat ekonomi digital yang juga CEO PT Duta Sukses Dunia, Yudi Candra, memproyeksikan di tengah kemajuan teknologi ditambah…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Menjawab Kasus Kartel

Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef Dalam diskusi tempo hari, penulis sudah membeberkan fakta-fakta yang memperkuat dugaan penulis tentang adanya kartel…

Asuransi Kesehatan Kembali Merugi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Hingga akhir tahun 2018 lalu defisit…

Mengapa Ekspor dan Kenapa Risaukan Impor?

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Ekspor dan impor sama pentingnya dalam perekonomian sebuah bangsa. Kita dididik take…