Arthavest Diversifikasi Portofolio Investasi - Kejar Pertumbuhan Bisnis

NERACA

Jakarta – Lantaran sering masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga suspensi karena terjadi peningkatan harga saham di luar kewajaran, mendorong PT Arthavest Tbk (ARTA) untuk melakukan public expose. Dimana pada materi public expose menyampaikan rencana perseroan melakukan diversifikasi portofolio investasi di bidang jasa keuangan lainnya di tahun 2019.

Melalui diversifikasi portofolio investasi, diharapkan target investasi potensi bisa lebih besar dan karena itu perseroan akan agresif menjalin kerjasama. Disebutkan, ARTA mencari target investasi yang potensial dan/atau melakukan kerjasama dengan pihak lain untuk mengembangkan bisnis baru yang berprospek baik. Selain itu, ARTA juga bermaksud memusatkan perhatian secara khusus pada pengembangan anak usahanya, yang bergerak di bidang sertifikasi digital dan teknologi terkait jasa keuangan.

Sebagai informasi, ARTA memiliki dua anak usaha yakni PT Sanggraha Dhika dan PT Sentral Pembayaran Indonesia. Adapun PT Sentral Pembayaran Indonesia memiliki dua anak usaha lainnya yakni PT Solusi Net Internusa (SNI) dan PT Cahaya Bintang Sukses. SNI merupakan perusahaan yang bergerak di bidang digital signature yang memasuki tahap komersial dan terdaftar sebagai salah satu penyedia layanan sertifikasi elektronik di Kementerian Komunikasi dan Informatika.

ARTA menyebut, industri digital signature memiliki potensi besar dalam mendorong industri keuangan Tanah Air. Apalagi sekarang marak kasus pinjaman online yang semakin mendorong kebutuhan sertifikasi digital. Hingga kuartal III 2018 ARTA membukukan kenaikan laba komprehensif sebesar 44,04% atau sebanyak Rp 5,89 miliar dari periode sama tahun lalu. Sedangkan untuk pendapatan usaha, emiten itu mencatatkan kenaikan tipis yakni 2% menjadi Rp 61,71 miliar.

Pada penghujung tahun 2018 kemarin, saham ARTA sempat disuspensi BEI akibat terjadi peningkatan harga kumulatif yang signifikan. Saham ARTA sendiri rajin masuuk UMA karena akumulasi peningkatan harga yang signifikan. Setelah suspend akhir pekan, harga saham ARTA kembali naik signifikan dalam dua hari perdagangan pasca disuspensi.

Kamis (27/12), harga saham Arthavest naik 24,76% ke level Rp 1.310 per saham. Ini adalah harga tertinggi saham ARTA sejak IPO pada November 2002. Kenaikan harga saham ARTA terjadi sejak pertengahan November 2018. Harga saham ARTA melonjak 322,58% secara month to date atau sejak awal Desember hingga kemarin. (

BERITA TERKAIT

Diversifikasi Ekonomi Daerah

Prediksi sejumlah ekonom bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 (yoy) sebesar 5,2%, ternyata meleset pada hanya mencapai 5,07%, atau naik tipis…

Danai Ekspansi Bisnis - PTPP Bakal Terbitkan Obligasi Rp 1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Tren perusahaan mencari pendanaan di pasar modal cukup marak pasca pemilihan presiden (Pilpres). Dimana salah satu perusahaan…

Perang Dagang Diyakini Tak Gerus Pertumbuhan Kredit

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meyakini peningkatan perang dagang antara Amerika Serikat (AS)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Anak Usaha DEAL Bidik Kontrak Rp100 Miliar

NERACA Jakarta - Kejar pertumbuhan pendapatan lebih besar lagi, PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL) melalui anak usahanya mengincar kontrak jangka…

Mayora Targetkan Penjualan Tumbuh 11,1%

Masih terjaganya daya terjaganya daya beli masyarakat menjadi optimisme pelaku industri makanan dan minuman (mamin) dan consumer goods bila tahun…

Pool Advista Finance Jajaki Terbitkan MTN

Pacu pertumbuhan pembiayaan baru, PT Pool Advista Finance Tbk (POLA) terus perkuat likuiditas. Maka guna memenuhi kocek tebal tersebut, perusahaan…