Perlu Negosiasi Utang LN?

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini ternyata tidak hanya disebabkan oleh persoalan moneter, melainkan juga didominasi oleh faktor utang luar negeri dan defisit transaksi berjalan. Sehingga tidak heran jika ada usulan untuk menunda pembayaran utang sebagai upaya mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Karena bagaimanapun, pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp14.000-Rp 15.000 memang membuat pusing kalangan pemerintah, swasta, BUMN dan rakyat di negeri ini. Karena nilai tukar rupiah terlihat seolah kian tidak berwibawa dan menunjukkan inferioritasnya terhadap dolar AS.

Tidak mengherankan bila pada akhirnya Bank Indonesia harus aktif melakukan intervensi, konon kabarnya cadangan devisa sejak awal tahun hingga November 2018 sudah terkuras US$12 miliar menjadi US$119 miliar, namun rupiah tidak kunjung menguat signifikan.

Tidak hanya itu. BI bahkan sudah tiga kali menaikkan suku bunga acuannya (7 Days Reverse Repo Rate)masing-masing 25, 25 dan 50 basis poin, namun rupiah malah belum memperlihatkan keperkasaannya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa penyebab melemahnya rupiah bukan oleh faktor moneter belaka, melainkan oleh sebab lain seperti beban utang utang negara yang harus segera dicarikan solusinya.

Seperti diketahui publik, sejarah utang Indonesia sejak zaman Orba sudah dikuasai oleh kaum kapitalis, neo liberal, yang “mengharamkan” hukumnya untuk menjadwal utang. Kelompok itu lebih suka terus bersusah payah membayar utang, bahkan bila perlu membuka utang baru untuk membayar bunga utang lama yang jatuh tempo.

Kita tentu ingat adanya sindromagood boybenar-benar menjangkiti para pengelola keuangan yang beraliran Keynesian, dimana negara bisa tumbuh dengan utang. Kemudian beban utang itu ditanggung oleh rakyat.

Nah, apabila mengamati gejala untuk menjadigood boysaat ini benar-benar dianut oleh petinggi birokrasi keuangan. Sehingga tidak heran semua solusi atas persoalan defisit, shortfall pajak, menggenjot pertumbuhan ekonomi, hingga membiayai pendidikan dan kesehatan, solusinya hanya satu yaitu membiayai lewat utang.

Padahal ada beberapa cara negara-negara lain menyelesaikan utang. Seperti Indonesia selalu mencicil pokok dan bunga utang tepat waktu. Sampai seberapa kuat ini dilakukan, karena dalam kondisi tekanan utang luar negeri, defisit anggaran, shortfall pajak, dan tekanan harga minyak dunia, pasti ada batas kemampuan itu.

Kedua, cara Pakistan yang memanfaatkan geopolitiknya. Pakistan meminta potongan utang hingga 50% karena merasa punya senjata nuklir dan siap menyokong Amerika dalam pertemanan negara-negara sekutu Amerika.

Ketiga, cara Argentina yang mengemplang utang. Karena Argentina punya beban utang US$80 miliar per tahun, sehingga ekonominya tak tumbuh signifikan. Untuk menciptakan pertumbuhan, Argentina jelas-jelas mengemplang utang dandeclarekepada para kreditor dengan alasan agar negeri itu bisa tumbuh.

Pengalaman masa lalu ketika Rizal Ramli (RR) menjabat Menko Perekonomian, dia menggunakan cara-cara inovatif untuk mengurangi beban utang. Pertama, pada sidangConsultative Group on Indonesia(CGI) di Tokyo pada 2001, diupayakan komponengrantCGI diperbesar. Indonesia akhirnya dapatgrantpaling besar yakni US$400 juta, paling tinggi dalam sejarah CGI.

Kemudian RR melakukandebt to nature swap, Jerman selalu mengritik Indonesia soal lingkungan hidup. Lantas RR menemui menteri Jerman, minta penghapusan utang Indonsia dan Indonesia menyediakan sekian ratus ribu hektare hutan untuk tidak dipotong. Untuk konservasi dan menghasilkan oksigen. “Kalau kita inovatif, maka kita dapat mengurangi utang beberapa miliar dolar AS dari Jerman,” jelasnya.

Ketiga, RR minta tolong Kuwait agar utang Indonesia selama 40 tahun utang diroll overterus, Kuwait minta pembayaran dipercepat. Setelah itu Kuwait memberi utang baru dengan bunga murah, supaya Pemerintah Kuwait tidak ditanya-tanya lagi di DPR Kuwait.

Jadi, cara mengatasi persoalan utang Indonesia sebenarnya ada beberapa opsi. Misalnya, ekonomi harus dipompa, tapi tidak dipompa dengan bujet karena bujetnya terbatas. Ekonomi dipompa denganbuild operate transfer(BOT), ataubuild operate own(BOO). Ekonomi dipompa dengan revaluasi aset, dipompa dengan sekuritisasi aset, sehingga ada mesin pertumbuhan yang lain di luar APBN. Terutama di dalam pulau Jawa. Masih banyak cara lain yang tentunya menjadi tantangan Menkeu saat ini.

BERITA TERKAIT

SMF Berencana Terbitkan Surat Utang Rp9 Triliun

  NERACA   Jakarta - BUMN pembiayaan sekunder perumahan PT. Sarana Multigriya Finansial Persero (SMF) berencana menerbitkan surat utang dengan…

Kemkumham: Kesadaran Masyarakat Tentang Hak Paten Perlu Ditingkatkan

Kemkumham: Kesadaran Masyarakat Tentang Hak Paten Perlu Ditingkatkan NERACA Yogyakarta - Direktur Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Rahasia…

Dosen: Perlu Rencana Kongkrit Berantas Korupsi

Dosen: Perlu Rencana Kongkrit Berantas Korupsi NERACA Depok - Dosen Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), Vishnu…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Waspadai Praktik Politik Uang

Pelaksanaan Pemilu dan Pileg yang bersamaan pada 17 April 2019 akan menjadi perhatian apparat keamanan, khususnya Polri. Kapolri Jenderal Pol…

Tekan Defisit Migas

Meski Gubernur BI Perry Warjiyo meyakini inflasi akan tetap terkendali tahun ini yang diprediksi berada di bawah 3,5%, ini tentu…

Produktivitas Utang Negara

Persoalan utang luar negeri Indonesia tidak terlepas dari perjalanan siklus kepemimpinan dari masa ke masa. Pemerintahan Jokowi-JK akhirnya kini menanggung…