Danamon Peduli Gelar Cepat Tanggap Bencana - Bantu Korban Tsunami Selat Sunda

Yayasan Danamon Peduli melalui relawan karyawan Danamon Group (Danamon, Adira Finance, Adira Insurance) bersama Korem 064 Maulana Yusuf (Serang) dan TNI Angkatan Darat (Lampung) merespons Tsunami Selat Sunda melalui program Cepat Tanggap Bencana (CTB). Pada kesempatan tersebut, Danamon Group menyerahkan bantuan berupa tenda, alas tidur, makanan siap saji, obat-obatan, perlengkapan kebersihan, selimut, pakaian, dan masker kepada sekitar 800 kepala keluarga di Desa Banyu Mekar, Desa Banyu Biru, Desa Teluk Serang Banten dan Lampung Selatan.

Yayasan Danamon Peduli beserta relawan karyawan Danamon dan anak perusahaannya yang tersebar di seluruh Indonesia berkomitmen untuk berkontribusi dalam merespons bencana melalui pemberian bantuan bagi masyarakat yang terkena dampak bencana.”Dengan bantuan kebutuhan darurat ini kami harapkan dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana sekaligus membantu agar korban dapat segera bangkit dan beraktivitas kembali,"kata Ketua Umum Yayasan Danamon Peduli, Restu Pratiwi di Jakarta, kemarin.

Danamon Group wilayah Serang, Banten secara bertahap melakukan penanaman 68.200 bakau di pesisir Sawah Luhur dan area tambak teluk pesisir desa Banten Cengkok, Kecamatan Kasemen Serang. Penanaman dan pemeliharaan bakau ini bekerja sama dengan Kelompok Tani Bumi Hijau dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang sebagai mitra kerja yang membantu menjaga kelestarian dari tanaman bakau tersebut sekaligus sebagai pengembangan kawasan eko wisata.

Berdasarkan keterangan dari Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Serang, kondisi bakau di pesisir Sawah Luhur baik secara kualitatif maupun kuantitatif mengalami penurunan. Padahal tanaman bakau mampu meredam laju abrasi dan gelombang laut yang besar termasuk tsunami, menetralisir bahan kimia jahat yang mencemari rawa pantai, mensterilkan air laut yang asin menjadi tawar, menjaga ekosistem hewani dan banyak lagi.

Perlu ketahui, perubahan iklim yang terjadi akibat pemanasan global merupakan bencana bagi makhluk hidup. Tanaman bakau memiliki kemampuan menyerap gas karbondioksida (CO2) lima kali lebih banyak daripada hutan tropis di dataran tinggi. Organisasi Meteorologi Dunia menyatakan 2016 sebagai tahun terpanas dalam sejarah. Suhu atmosfer bumi dalam setahun naik rata-rata 1,1OCelsius dibandingkan periode sebelumnya. Jika tidak segera melakukan inisiatif untuk perbaikan lingkungan, maka kondisi pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim akan terus memburuk.

BERITA TERKAIT

Indonesia Re Catat Big Loss Klaim Meningkat - Banyak Bencana

      NERACA   Jakarta - BUMN reasuransi, Indonesia Re, mencatatkan, big loss klaim reasuransi mengalami peningkatan signifikan selama…

Indonesia Masih Butuh Sistem Birokrasi Lebih Cepat

  NERACA   Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan dalam menghadapi dunia persaingan dewasa ini, Indonesia membutuhkan sistem birokrasi…

Gelar Karnaval, Akulaku Ingin Tingkatkan Inklusi Keuangan

NERACA Jakarta - Akulaku, perusahaan kredit online mengumumkan akan segera menggelar KarnavAL Akulaku festival penuh interaksi dan keseruan pada 16…

BERITA LAINNYA DI CSR

Masuki Usia Ke-10 SATU Indonesia - Eksistensi Astra Berbagi Inspirasi Positif Anak Muda

Konsistensi untuk berbagi dan memberikan manfaat kepada bagi masyarakat luas, masih dilakukan PT Astra Internasional Tbk sebagai bagian dari bentuk…

Akselerasi Ekonomi Digital - GOJEK Latih 150 UMKM binaan Muslimat NU

Guna mendukung pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Yogyakarta, GOJEK sebagai perusahaan penyedia layanan mobile on-demand dan pembayaran…

Lewat Program Kampung Bersahaja - Zurich Indonesia Cipatakan Masyarakat Tangguh

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan dalam pemberdayaan masyarakat, perusahaan asuransi Zurich Indonesia meluncurkan program “Kampung Zurich Bersahaja”, sebuah…