Pendidikan untuk Si Kecil di Era Teknologi

Pada era millenial seperti saat ini, teknologi digital menjadi realitas zaman yang tidak dapat dihindari. Seiring perkembangan teknologi yang kian pesat tersebut, masyarakat pun menjadi bagian dari budaya digital. Kondisi demikian tentu saja menuntut perhatian penuh dari orang tua, mengingat perkembangan teknologi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan anak.

Ibarat pisau bermata dua, perkembangan teknologi digital bisa berdampak positif, namun juga bisa berdampak positif. Dan orang tua, memegang peran penting dalam pemanfaatan teknologi digital secara positif dan konstruktif oleh anak. Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman Edi Santoso mengatakan dalam mendidik anak, orang tua harus ikut dan mampu mengarahkan pemanfaatan teknologi itu.

Kendati demikian, dia mengakui bahwa pada saat ini terdapat kesenjangan antara laju teknologi dan kesiapan untuk memanfaatkannya. "Tak hanya kesiapan teknis, namun juga kesiapan mental untuk tidak terbawa tren teknologi. Idealnya, pemanfaatan teknologi itu mengikuti kita. Kita yang mengarahkan pemanfaatannya. Inilah yang secara teoritik disebut sebagai teori kontruksi sosial teknologi, bukan kita yang diarahkan teknologi," katanya.

Karena itu, orang tua, kata dia, harus ikut dan mampu mengarahkan pemanfaatan teknologi itu bagi anak-anaknya. "Jangan sampai anak-anak menggunakan gadget dengan segala aplikasinya, tapi orang tua tidak ngerti. Misal, anak-anak dapat tugas dari sekolah yang ada kaitan dengan penggunaan teknologi digital, orang tua bisa ikut mendampingi jika orang tua juga mengerti dan mengikuti perkembangan teknologi," katanya.

Untuk itu, jangan sampai ada kesenjangan teknologi yang bisa menciptakan kesenjangan antara anak dengan orang tua. Bahkan, kata dia, interaksi antara anak, orang tua, dan teknologi, sekaligus bisa menjadi momen untuk menumbuhkan literasi media dan momen untuk menumbuhkan pemahaman tentang realitas media secara konstruktif bagi anak-anak.

"Misal ketika anak membuat vlog, orang tua bisa menjelaskan bahwa begitulah media diciptakan. Ada peristiwa, fenomena, yang oleh jurnalis kemudian ditulis atau divideokan menjadi sebuah berita yang disebarluaskan. Jadi, akan terbangun kesadaran dalam diri anak, bahwa realitas dan berita itu dua hal yang berbeda. Anak jadinya tak mudah terprovokasi oleh isi media. Mereka akan jadi khalayak yang rasional," katanya.

Dia menambahkan, orang tua tidak perlu takut apalagi sampai anti terhadap perkembangan teknologi. Yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua adalah menumbuhkan daya imun pada anak, dengan mendampingi mereka dalam pemanfaatan teknologi itu. Dia juga mengatakan Revolusi Industri 4.0 adalah era di mana internet telah merasuk ke segala aspek kehidupan, atau dikenal dengan "internet of things".

Persoalannya, memang bukan semata akses, tapi pada bagaimana akses membawa kemanfaatan buat masyarakat. Di sinilah literasi digital menjadi relevan dan orang tua berperan untuk meningkatkan literasi media pada anak. Jadi, literasi digital itu merujuk pada partisipasi atau penggunaan piranti digital secara positif dan konstruktif Orang Tua Kekinian Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Parenting Indonesia (iParent) Sudibyo Alimoeso menambahkan bahwa orang tua pada era teknologi seperti saat ini dituntut menjadi orang tua milenial.

"Orang tua harus fleksibel dan kekinian, bisa ikut mengikuti perkembangan zaman dan bisa masuk dalam dunia anak-anak mereka," katanya. Tugas orang tua di zaman milenial, kata dia, semakin berat karena dituntut untuk mahir atau piawai di segala bidang. Seorang ibu, misalnya, dapat dikatakan pekerjaannya 'multitasking', yaitu segala macam pekerjaan seolah wajib dikuasai dan dikerjakan. Mulai dari memasak, mengasuh anak, mendidik, mengelola keuangan dan sebagainya. Perkembangan zaman mengharuskan seorang ibu untuk mampu menyesuaikan dirinya.

Anak-anak, tambah dia, memang harus dididik sesuai zamannya. Di era serba digital ini, suka atau tidak suka seorang ibu harus ikut memelajarinya agar tidak tertinggal oleh anak-anaknya. "Ada baiknya, agar seorang ibu lebih dekat dengan anaknya, maka bisa 'seolah-olah' minta pembelajaran tentang dunia digital kepada anaknya. Ini agar timbul 'bonding' atau kelekatan seorang ibu dengan anak yang bisa membuat anak lebih terbuka dengan ibunya, khususnya berkaitan dengan urusan digital," katanya.

Dengan demikian selain ada komunikasi, seorang ibu secara tidak langsung bisa mengawasi dan bahkan membatasi penggunaan digital, khususnya bila anaknya masih kecil. Disamping itu, kata dia, orang tua juga harus mampu memberikan penjelasan tentang pemakaian gadget secara bijak kepada anak-anak mereka. Selain itu, orang tua juga dapat memberikan prakondisi dalam pemberian gadget yang disesuaikan dengan perkembangan umur anak.

Disamping itu, para orang tua harus selalu berusaha melakukan pemuktahiran diri, agar mampu berkomunikasi dengan baik dengan seluruh anggota keluarganya. "Menyesuaikan diri, mudah diucapkan tetapi susah dilakukan. Tapi ini merupakan keharusan agar memudahkan orang tua, khususnya ibu menjalankan fungsinya secara optimal," katanya. Dengan melakukan berbagai upaya, maka orang tua, siap mendapingi anak-anak mereka untuk masuk ke jejaring digital. Pendampingan orang tua sangat penting agar anak tidak hanyut dan tidak larut dalam arus perkembangan teknologi tanpa memiliki kendali.

BERITA TERKAIT

Pemkab Serang-BPPT Kerja Sama Tingkatkan Inovasi dan Teknologi

Pemkab Serang-BPPT Kerja Sama Tingkatkan Inovasi dan Teknologi NERACA Serang - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang dan Badan Pengkajian dan Penerapan…

Wakil Ketua MPR - Berhenti Korupsi untuk Selamatkan Bangsa Indonesia

Mahyudin Wakil Ketua MPR Berhenti Korupsi untuk Selamatkan Bangsa Indonesia Jakarta - Wakil Ketua MPR Mahyudin mengajak semua pihak berhenti…

Kebijakan Pemerintah dan BI untuk Mengejar Target Devisa Pariwisata

    NERACA   Jakarta - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) akan mengejar target kunjungan wisatawan mancanegara dan penerimaan devisa…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

10% Soal UN Ketegori HOTS

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan, sebanyak 10 persen dari soal Ujian Nasional (UN) kategori kemampuan berpikir tingkat…

Siapapun Bisa Mengenyam Pendidikan Di UI

      Kuliah di Universitas Indonesia (UI) merupakan hal yang menjadi dambaan banyak siswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan…

7.000 Jurnal Ditargetkan Terakreditasi

    Pemerintah menargetkan dapat mengakreditasi 7.000 jurnal secara nasional dalam jangka waktu dua tahun. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan…