BI: Syaratnya CAD Harus di Bawah 2% - SYARAT EKONOMI RI TUMBUH STABIL DI ATAS 5%

Jakarta-Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengingatkan, salah satu syarat agar ekonomi Indonesia dapat tumbuh stabil di atas 5%, adalah dengan menjaga defisit transaksi berjalan (current account deficit-CAD) yang tetap rendah di bawah 2% terhadap PDB. "Jika Indonesia mau tumbuh di atas 5% dan stabil tanpa volatilitas kita harus berusaha untuk mengatur defisit transaksi berjalan tidak lebih dari 2%,” ujarnya di Jakarta, Rabu (5/12).

NERACA

Jika tidak demikian, menurut Mirza, maka perekonomian Indonesia masih rentan terhadap fluktuasi perekonomian global, misalnya tekanan dari pergerakan nilai tukar dolar AS. "Jika (defisit transaksi berjalan) kita bergerak di atas 2% PDB maka setiap saat ketika alam pergerakan dolar Amerika maka rupiah melemah, jika rupiah melemah itu akan menghantam industri, pinjaman luar negeri," ujarnya.

Karena itu, dia mendukung perubahan dalam struktur yang menyokong perekonomian Indonesia. Beberapa sektor yang perlu dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil antara sektor pariwisata dan industri. "Perubahan struktural bagaimana mengurangi defisit transaksi berjalan kita tidak lebih dari 2% dari PDB. Caranya adalah melalui pariwisata dan industri," tutur dia.

Mirza mengatakan, pasca-krisis tahun 1998, Indonesia berupaya menjaga agar kondisi perekonomian tetap sehat salah satunya dengan mengontrol defisit transaksi berjalan. Sejauh ini, Indonesia berkomitmen untuk menjaga defisit transaksi berjalan di bawah 3% terhadap PDB. "Setelah 1998 kita masuk era reformasi. Jadi kita punya batas defisit anggaran 3% kita coba kontrol current account defisit (CAD) tidak berada di atas 3% PDB. Itu prinsip yang coba kita atur," ujarnya.

Sebelumnya Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, ekonomi Indonesia mampu tumbuh pada kisaran 6,1% pada 2024. Ini dipengaruhi oleh percepatan pembangunan infrastruktur dan serangkaian kebijakan deregulasi yang ditempuh selama ini akan meningkatkan produktivitas perekonomian ke depan. "Dalam jangka menengah, kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi lagi yaitu mencapai kisaran 5,5-6,1% pada tahun 2024," ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi juga didorong oleh serangkaian kebijakan reformasi struktural yang difokuskan pada peningkatan tiga hal penting. Pertama, daya saing perekonomian, terutama aspek modal manusia dan produktivitas.

"Kedua, kapasitas dan kapabilitas industri untuk meningkatkan ekspor dan mengurangi defisit transaksi berjalan, ketiga pemanfaatan ekonomi digital untuk mendorong pemberdayaan ekonomi secara luas dan merata," ujar Perry.

Dengan akselerasi reformasi struktural di berbagai bidang tersebut, pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6,1% pada 2024 dengan defisit transaksi berjalan akan menurun di bawah 2% dari PDB. "Pendapatan per kapita meningkat dari sekitar US$3.500, dewasa ini menjadi lebih dari US$4.800 pada 2024 sehingga meningkatkan Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah atas atau upper middle income," ujarnya.

Strategi Dorong Pertumbuhan

Perry menuturkan, perjalanan ekonomi Indonesia pada 2018 memberikan beberapa pelajaran yang dapat dijadikan landasan untuk memperkuat sinergi dalam menjaga ketahanan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di 2019. Setidaknya ada tiga strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan.

Pertama, stabilitas dan ketahanan perekonomian perlu terus diperkuat. Sejarah perekonomian sejak kemerdekaan menunjukkan periode berguncang, berkaitan erat dengan tidak prudennya kebijakan moneter, perbankan dan fiskal, naik turunnya ekspor yang beriringan dengan siklus harga komoditas dunia, ataupun tidak terkendalinya perkembangan sektor properti dan utang luar negeri.

"Karena itu, kita harus memastikan inflasi tetap rendah, nilai tukar Rupiah stabil, defisit fiskal rendah, dan stabilitas sistem keuangan terjaga. lebih dari itu, defisit transaksi berjalan perlu kita turunkan dan kendalikan ke dalam batas yang aman, yaitu tidak lebih dari 3% PDB," ujarnya.

Kedua, daya saing dan produktivitas harus terus di tingkatkan untuk mendorong momentum pertumbuhan ke tingkat yang lebih tinggi. Indonesia harus mampu beralih dari ketergantungan pada ekspor komoditas primer ke manufaktur dan pariwisata, meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri untuk menekan impor.

"Kita juga harus mendorong lebih banyak investasi langsung baik dari dalam maupun luar negeri. Penguatan struktur ekonomi nasional perlu terus dilakukan melalui hilirisasi industri untuk peningkatan nilai tambah dari pengolahan sumber daya alam, baik sektor pertambangan, perkebunan, pertanian maupun perikanan," tutur Perry.

Ketiga, sinergi kebijakan antar otoritas menjadi kunci dalam upaya untuk memperkuat struktur ekonomi nasional. Sementara kebijakan moneter, fiskal dan sektor keuangan diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, kebijakan reformasi struktural di sektor riil perlu terus diperluas dan dipercepat untuk peningkatan lebih lanjut daya saing, produktivitas, Investasi, perdagangan, ketenagakerjaan, dan kepastian hukum.

"Perbaikan Iklim usaha dan iklim Investasi perlu didorong melalui online single submission (OSS) dan akselerasi efisiensi birokrasi di pusat maupun daerah. Pembangunan infrastruktur yang telah bahasil meningkatkan konektivitas selama ini perlu diperluas dan diarahkan pula untuk mendorong pengembangan kawasan ekonomi dan pariwisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Respon Pengusaha

Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, tugas pemerintah cukup berat untuk mencapai posisi CAD di kisaran 2,5% pada tahun depan. Sebab, selama impor masih lebih tinggi dari ekspor, angka tersebut sulit dicapai.

"Saya rasa akan berat ya. Selama kita tidak mau menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) akan sulit sekali untuk kita mencapai itu. Saya rasa bagus ya pemerintah optimis tapi saya rasa akan berat. Kenapa karena kita masih bergantung pada impor sangat besar. Sehingga kita mau genjot ekspor seperti apapun akan sulit," ujarnya seperti dikutip merdeka.com, kemarin.

Shinta mengatakan, sebagai pelaku usaha pihaknya terus mendukung peningkatan ekspor. "Tapi kita dari dunia usaha kan terus mendukung ya kan. Ini kan percuma kita komplain saja tanpa ada solusi mau apa. Jadi kita berjalan makanya gimana sih caranya menaikkan, kita menggenjot pangsa ekspor kita lebih banyak," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur BI mengatakan tren penurunan defisit current account akan terus berlanjut di tahun 2019. Pihaknya memprediksi CAD pada 2019 akan berada di bawah 2,5%. "Tahun ke depan bagaimana? Langkah yang tadi dilakukan dan juga langkah-langkah stabilisasi moneter dan juga fiskal itu akan membawa CAD di tahun 2019 lebih turun lagi, yang kami perkirakan 2,5% dari PDB," ujarnya. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

IHSG Sepekan Kemarin Tumbuh 0,17%

NERACA Jakarta – Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) sepekan pada minggu ke-3 bulan Desember mencatat indeks harga saham gabungan…

Bidik Bisnis Tumbuh 10% di 2019 - Tifa Finance Butuh Pendanaan Rp 1 Trliun

NERACA Jakarta – Perusahaan pembiayaan kendaraan, PT Tifa Finance (TIFA) menargetkan bisnis cukup konservatif dnegan menetapkan target pertumbuhan 5%-10% di…

Momentum Tahun Politik - BBJ Incar Transaksi Tumbuh 15% di 2019

NERACA Jakarta – Momentum tahun politik di 2019, tidak membuat kekhawatiran bisnis perdagangan bursa komoditi ikut lesu. Namun demikian PT…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

AKIBAT KINERJA EKSPOR MENURUN - BPS: Defisit NPI Kian Meningkat US$7,52 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungungkapkan, neraca perdagangan Indonesia pada November 2018 masih mengalami defisit US$2,05 miliar, lebih besar jika dibandingkan…

Kepentingan Politik Hambat Ketahanan Energi

NERACA Jakarta – Ketahanan energi yang dicita-citakan diyakini tidak akan tercapai jika pengelolaannya masih dipengaruhi berbagai kepentingan politik. Hal itu…

MASALAH KEPATUHAN WP DIPERTANYAKAN - Kontribusi Pajak Orang Kaya Masih Minim

Jakarta-Pengamat perpajakan menilai, meski nilai harta orang terkaya di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun berdasarkan data majalah Forbes…