Pelita Samudera Siapkan Capex US$ 40 Juta

NERACA

Jakarta – Tahun depan, PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PSSI) mengalokasikan anggaran belanja modal (capital expenditure/capax) sebesar US$ 40 juta. Jumlah tersebut menunjukan kenaikan hingga dua kali lipat dibanding alokasi capex tahun 2018 sebesar US$ 20 juta.

Direktur PT Pelita Samudera Shipping Tbk, Harry Thjen mengatakan, dana belanja modal 2019 akan dialokasikan sebanyak 40%-50% untuk membeli kapal induk kelas hendymax, lalu sekitar 40% untuk membeli kapal tongkang dan kapal tunda, sementara sisanya untuk kebutuhan lainnya.”Jumlah capex 2019 kami sesuaikan dengan situasi dan kondisi bisnis yang terjadi. Sementara sumber dananya berasal dari kas internal maupun pinjaman bank,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dengan penambahan armada yang dilakukan, PSSI optimistis volume angkut komoditas pertambangan yang dilakoni akan meningkat sebesar 20%-25% di tahun 2019. Karena itu pula, manajemen PSSI berharap dapat membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 25-30%, dengan margin laba bersih inti naik menjadi 10%-12%.

Terkait pendanaan ekspansinya, dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) para pemegang saham PSSI menyetujui rencana perseroan untuk mendapatkan fasilitas pinjaman bank jangka pendek dan pinjaman kontinjensi. PSSI berencana untuk mendapatkan pinjaman bank yang terdiri dari sampai dengan US$ 10 juta untuk fasilitas pinjaman jangka pendek dan sampai dengan US$ 2 juta untuk fasilitas kontinjensi dari Citibank N.A. Indonesia.

Menurut Head of Investor Relation PSSI, Adi Hartadi, fasilitas pinjaman ini tidak memiliki jaminan dan ini mencerminkan tingkat kepercayaan dan keyakinan yang tinggi dari institusi keuangan terhadap prospek bisnis perseroan. Disampaikannya, PSSI berencana untuk menggunakan pinjaman ini untuk kebutuhan pembiayaan jangka pendek, sebagai bagian dari rencana pengembangan armada Perseroan yang berkelanjutan.

Di bulan Desember 2018, PSSI berencana untuk menambah 1 unit kapal tunda dan 1 unit kapal induk kelas Handymax, yang seluruhnya dibiayai dari kas internal perseroan. Sebagai informasi, perusahaan dalam dua tahun terakhir telah membagikan total dividen tunai sekitar Rp 50,3 miliar atau Rp 10 per saham. Ke depannya perusahaan akan melayani basis pelanggan yang lebih besar untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. Di tahun 2019, emiten jasa pelayaran ini menargetkan menargetkan pendapatan tumbuh antara 25%-30% dengan margin laba bersih inti sekitar 10%-12%.

BERITA TERKAIT

Targetkan Dana IPO US$ 1 Miliar - Lion Air Rencanakan Akuisisi Armada Pesawat

NERACA Jakarta – Sempat tertunda rencana penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) PT Lion Mentari Airlines (Lion…

Satu Global Serap IPO Agro Yasa Lestari

NERACA Jakarta – Setelah resmi mengantongi pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rencana PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS)…

Investree Pasarkan Obligasi Ritel SBR009

NERACA Jakarta – Sukses jualan obligasi ritel yang diterbitkan pemerintah. Di awal tahun 2020 ini, Investree (PT Investree Radhika Jaya)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Dampak Restrukturisasi Utang - Bisnis Baja Kratakau Steel Bisa “Bernafas Panjang”

NERACA Jakarta – Kerja keras PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) untuk menyehatkan keuangan dari rugi mulai membuahkan hasil. Hal…

Kejar Pertumbuhan Emiten - BEI Kerjasama Informasi Dengan BKPM

NERACA Jakarta – Dalam rangka mendorong pertumbuhan pasar modal dan termasuk menjaring calon perusahaan potensial untuk listing di pasar modal,…

Raih Izin Stock Split - Fast Food Lanjutkan Gelar Rights Issue Saham

NERACA Jakarta -Hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Fastfood Indonesia Tbk (FAST) menyetujui rencana pemecahan harga nomimal…