Industri Petrokimia Perkokoh Struktur dan Pacu Nilai Tambah - Dunia Usaha

NERACA

Jakarta – Pemerintah terus mendorong tumbuhnya sektor industri guna memperkuat struktur manufaktur dan meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri. Upaya strategis ini bertujuan untuk mensubstitusi produk impor sekaligus mengisi pasar ekspor.

“Salah satu sektor yang diprioritaskan adalah industri petrokimia. Sebab termasuk yang dipilih dalam kesiapan menjadi pionir mengimplementasikan industri 4.0 sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada peresmian PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI) di Cilegon, Banten, disalin dari Antara.

Menperin menyambut baik beroperasinya SRI sebagai produsen karet sintetis pertama di Indonesia yang memproduksi polybutadiene rubber dan solution styrene butadiene rubber. SRI merupakan perusahaan patungan Michelin dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dengan nilai investasi mencapai USD435 juta.

“Pabrik ini yang mendapat tax holiday. Artinya, fasilitas tax holiday memang membawa investasi dan diharapkan mendapat devisa dari ekspor sebesar USD250 juta. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan neraca perdagangan dengan memacu investasi dan ekspor,” paparnya.

Menperin pun memberikan apresiasi terhadap kolaborasi bisnis ini, karena sebagai salah satu kunci sukses pengembangan pusat produksi olefin yang semakin lengkap dan terintegrasi dalam rangka mendukung klaster petrokimia di Cilegon. “Dengan adanya lighthouse, akan ada lebih banyak lagi yang mengikuti success plant seperti ini. Apalagi sudah menerapkan industri 4.0,” ujarnya.

Airlangga menjelaskan, industri karet sintetis merupakan sektor yang perlu dikembangkan karena dibutuhkan banyak industri lainnya. Misalnya dimanfaatkan untuk memproduksi ban, conveyor belt, komponen karet, alas kaki, serta pembungkus kabel listrik.

“Saat ini hanya terdapat satu produsen karet sintetis dengan kapasitas sebesar 75.000 ton per tahun, sementara kebutuhan karet sintetis di dalam negeri di tahun 2017 mencapai 230.000 ton,” ungkapnya. Untuk itu, diharapkan SRI dengan memiliki kapasitas produksi sebesar 120 ribu ton per tahun, dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik.

“Pembangunan pabrik ini sejalan dengan hilirisasi industri karena meningkatkan nilai tambah butadiene dan styrene monomer yang sudah diproduksi di dalam negeri. Bagi Michelin, ini pabrik ketiga setelah di Perancis dan Amerika Serikat,” imbuhnya. Investasi ini sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi karena didukung dengan iklim usaha yang kondusif.

Presiden Direktur SRI Brad Karas mengatakan, SRI sebagai salah satu pionir di Indonesia untuk industri karet sintetis yang menggunakan teknologi baru dalam upaya memproduksi produk-produk bernilai tambah tinggi. “Dengan menggabungkan bahan baku Chandra Asri dan teknologi dari Michelin, kami mengubah bahan mentah menjadi produk setengah jadi yang digunakan sebagai komponen utama untuk menghasilkan ban ramah lingkungan,” jelasnya.

Guna memenuhi standardisasi produksi, General Managing Partner Michelin Group Florent Menegaux menyampaikan, pihaknya telah melakukan pelatihan bagi para tenaga ahli SRI dari Indonesia sehingga mereka dapat mengembangkan kompetensinya untuk mendukung daya saing perusahaan.

“Selama tahun 2015-2017, kami memberikan pelatihan ekstensif bagi karyawan SRI, dengan cara mengirimkan mereka ke pabrik karet sintetis Michelin di Perancis dan Amerika Serikat. Secara umum, staff kunci SRI menjalani 800 jam pelatihan di pabrik-pabrik Michelin,” ucapnya.

Pada hari yang sama, Menperin Airlangga juga meresmikan pembangkit listrik captive power milik PT Indorama Petrochemicals di Cilegon, Banten. Fasilitas baru berkapasitas 30 MW tersebut dinilai dapat mendukung daya saing perusahaan.

“Industri ini harus selalu di-upgrade teknologinya. Dengan tenaga baru ini, yang memanfaatkan panas di pabrik untuk tambahan energi menjadi biaya produksi menurun dan tercipta efisiensi,” ujarnya. Hal ini juga diyakini dapat meningkatkan keuntungan bagi perusahaan.

“Dua pabrik Indorama saat ini berjalan lancar dan tidak ada disruption. Hal ini tentu tidak terlepas dari upaya pemerintah mendorong pengembangan industrialisasi. Di kompleks Cilegon ini akan ada pabrik baru,” ungkapnya.

Menperin menambahkan, industri nasional saat ini dipacu untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Salah satu upaya yang dapat mendorong peningkatan daya saing industri nasional adalah melalui inovasi teknologi secara berkelanjutan.

BERITA TERKAIT

Dunia Usaha - Pasar Masih Potensial, Pertumbuhan Industri Kacamata Dipacu

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri kacamata di dalam negeri melalui peningkatan investasi. Di samping itu juga…

Investasikan Dana Rp 49,16 Miliar - Lagi, Purinusa Tambah Porsi Saham INKP

NERACA Jakarta –Perkuat porsi saham di bisnis kertas, PT Purinusa Ekapersada menambah kepemilikannya di PT Indah Kiat Pulp & Paper…

Kantungi Pinjaman Rp 119,92 Miliar - Multipolar Berikan Jaminan Bagi Anak Usaha

NERACA Jakarta - Dukung pengembangan bisnis anak usaha yang seret likuiditas, PT Multipolar Tbk (MLPL) memberikan jaminan atas pinjaman anak…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Petrokimia Skala Besar Siap Investasi di Gresik

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan investasi di sektor industri petrokimia. Selain menumbuhkan sektor hulu, tujuannya juga guna…

Kebijakan Publik - Kemenperin dan Polri Sinergi Wujudkan Kondusifitas Iklim Usaha

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sepakat bersinergi untuk mewujudkan pengamanan di bidang perindustrian…

Dana Bagi Hasil Migas untuk Kesejahteraan Papua

NERACA Manokwari – Peraturan Daerah Khusus tentang Dana Bagi Hasil Migas (Perdasus DBH Migas) diharapkan segera dapat diimplementasikan di Provinsi…